Makan
malam adalah satu aktivitas yang terkadang disebut momok oleh beberapa wanita
dengan bobot tubuh berlebih. Hehe. Bukan karena dapat mematikan atau
menciptakan satu penyakit yang mengerikan namun dapat membuat lemak dalam tubuh
tertimbun dengan sakral. Dan malam ini saya ikut mengkawatirkan pola hidup yang
demikian. Makan jam 10 malam kemudian bersatu dengan kasur. Bisa dibilang saya
bukan tipe wanita yang hobi melakukan diet, tapi saya tidak mau jadi gemuk.
Haha. akhirnya saya merayu mata untuk bertahan lebih lama dengan menonton
televisi.
Berkali-kali
saya mengganti channel. Kemudian berhenti pada satu tayangan semacam FTV di
SCTV. Terlihat tiga sosok remaja SMA yang tengah asik melihat pengumuman
pemenang di jejaring sosial terkemuka yaitu facebook. Salah satu dari mereka
mendapat hadiah lomba berupa leptop. Ia terlihat begitu senang dan segera
pulang untuk memberi kabar pada ayahnya. Esoknya scene film pindah dengan latar
ruang tamu. Ayah dan seorang anak bernama Fatim tengah asik menikmati leptop
baru dan bercengkrama dengan facebook. Ayah fatim memintanya untuk membuatkan
satu akun pribadi agar bisa terhubung dengan teman-teman lama. Awalnya saya
agak boring nonton tayangan ini. Tapi tetap saja enggan pindah ke channel yang
lain, mungkin karena sudah sedikit mengantuk.
Kembali ke cerita
fatim. Hehe
Ia
membantu ayahnya menemukan nama di daftar pencarian teman. Dengan sedikit
mengira ngira kemudian ketemulah akun fecabook teman lama si ayah, yaitu
Samidi, Prasetya , dan Kisumi. Dalam foto profil yang dipasang oleh masing-masing
teman tersebut terpancar satu kebahagiaan dengan rumah mewah dan keluarga kecilnya.
Kang Mahbub (ayah fatim) terlihat begitu bahagia, pasalnya mereka adalah
sekelompok teman bermain yang sejak kecil sudah bersama-bersama, bahkan menamai
diri sebagai lima sekawan , plus Suryatna yang akun facebook nya tidak
ditemukan. Kang Mahbub berencana mengadakan reuni kecil kecilan untuk mengobati
rasa rindu yang bergejolak di hatinya. Ia pun mulai menelepon satu per satu
dari lima sekawan. Nomornya ia dapat dari biodata pada masing-masing akun
facebook. Samidi bercerita kalau dirinya kini telah memiliki showroom yang
cukup besar. Ia menyepakati adanya reuni lima sekawan dan akan menghadirinya
jika keberadaan suryatna sudah diketahui. Karena dia pikir reuni tidak akan
lengkap jika salah satu dari lima sekawan tidak ada. Prasetya pun demikian , ia
meminta kang Mahbub untuk menemukan Suryatna terlebih dahulu jika akan
melakukan reuni lima sekawan. Dalam cerita film tersebut, prasetya digambarkan
sebagai sosok pejabat yang memiliki rumah dan mobil mewah. Lain Samidi , lain
Prasetya, lain pula kisumi. Ia memiliki satu perusahaan di bidang – penulis lupa
. hehe – yang cukup sukses. Tidak terdapat satu kekurangan sedikit pun yang
tampak dalam diri Kisumi. cantik , pintar dan kaya raya. Kisumi berpendapat
sama dengan kedua teman yang lain, ia meminta kang mahbub sebagai pemimpin regu
untuk menemukan suryatna terlebih dahulu.
Singkat cerita , akhirnya suryatna dapat ditemukan oleh
Kang Mahbub. Dengan perasaan bahagia dan sedikit haru ia langsung bercerita
soal rencana reuni yang diadakan olehnya. Ia bercerita panjang lebar soal
ketiga teman yang karirnya begitu cemerlang. Mendengar penjelasaan darinya Suryatna
justru menyatakan enggan untuk hadir reuni. Ia malu pada ketiga teman yang ia
pikir sangat sukses. Suryatna bercerita bahwa dirinya kini terbelit hutang yang
sangat banyak. Rumahnya saja terlihat tidak layak untuk dihuni dengan baik,
untuk makan harus banting tulang sana sini. Ia berpendapat bahwa reuni hanya
untuk orang kaya, tidak untuk dirinya yang miskin. Kang mahbub ber khutbah
panjang lebar agar suryatna mau datang reuni, tapi tetap saja ia kekeuh untuk
tidak hadir. Namun kang Mahbub tidak lantas menyerah dalam rencana reuni. Ia
kemudian menghubungi Prasetya, Samidi dan Kisumi , mengabarkan bahwa Suryatna
telah ditemukan dan reuni akan diadakan minggu pertama bulan depan. Hampir semua
menjawab kompak ‘duh kang, saya ini sibuk. Nanti saya kabari lagi ya bisa atau
enggaknya’ . sebenarnya kang Mahbub sedikit kecewa dengan pernyataan mereka. Tapi
ia tetap mempersiapkan acara dengan baik, tidak peduli bagaimana nantinya acara
reuni akan berlangsung.
Ada satu hal yang tidak disangka sangka oleh Kang Mahbub.
Suatu sore Kisumi datang menemuinya. Kisumi menangis sambil bercerita tentang
dirinya yang sampai usia yang kian menua tak kunjung memiliki suami. Ia mengatakan
bahwa dirinya malu untuk hadir dalam acara reuni lima sekawan. ia takut
nantinya teman temannya akan bercerita tentang keluarga mereka masing-masing
dan Kisumi tidak akan mempunyai jawaban jika pertanyaaan tentang suami dan anak
terlontar padanya. Kepada kang Mahbub Kisumi meminta izin untuk tidak hadir
reuni, dan ia menitipkan sejumlah uang untuk keperluan reuni. Dan kang mahbub
hanya bisa pasrah pada keputusan Kisumi.
Esoknya
Samidi pun datang tanpa diundang. Berbeda dengan Kisumi, ia bercerita soal
dirinya yang divonis mandul. Ia pun juga malu jika harus menghadiri acara
reuni. Ia kawatir jika teman-temannya akan menanyakan tentang anak pada
dirinya. Begitu juga dengan Prasetya, ia datang meminta maaf pada Kang Mahbub
karena tidak bisa hadir dalam acara reuni. Ia mengaku bahwa dirinya kini tengah
terlibat kasus korupsi. ia tidak mau teman temannya mengetahui aib nya. Lagi lagi Kang
Mahbub hanya bisa pasrah pada keputusan teman-temannya untuk ketidakhadiran dalam
acara reuni.
Saya
tidak akan bercerita tentang ending cerita tersebut. Namun saya kemudian
berpikir bagaimana kebiasaan reuni ini berlaku di sekitar kita. Sama seperti
sahabat-sahabat Mahbub tersebut di atas, saya juga pernah malu menghadiri acara
kumpul-kumpul dengan teman karena belum keterima di salah satu universitas. Saya tidak punya nyali kala itu, melihat
teman-teman yang rata2 sudah pasti akan kuliah dimana sedangkan saya belum. Pada
akhir tahun 2011 saya juga pernah ikut dalam kepanitiaan reuni akbar jurusan
matematika mulai tahun 1998-2007 dan peserta yang hadir rata-rata sudah
memiliki pekerjaan, hampir tidak ada yang pengangguran. Namun pesertanya hanya
segelintir saja dari sekian banyak mahasiswa yang telah lulus. Saya jadi
teringat apa kata ayah saya bahwa reuni biasanya dihadiri oleh orang-orang yang
cerita hidupnya baik-baik saja. Pekerjaannya baik dan keluarganya baik. Orang-orang
yang belum punya pekerjaan pasti enggan untuk hadir reuni.
Kebanyakan
acara-acara reuni yang digelar di berbagai tempat memang tidak akan lepas dari
seputar pertanyaan ‘sekarang bekerja dimana, suami/istri orang mana, punya anak
berapa, sudah lulus atau belum ‘ dan banyak lagi hal yang sering dianggap sebagai
satu parameter sebuah kehidupan yang bahagia. Tentu saja, orang-orang yang
tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mainstream itu akan berpikir
ulang untuk menghadiri acara reuni. Padahal kalau dipikir pikir kenapa ada
istilah bahwa silaturrahim dapat membukakan pintu rejeki dan memperpanjang
umur. Salah satunya ialah bisa jadi dalam pertemuan silaturahim tersebut kita
mendapatkan satu peluang pekerjaan atau apapun hal yang tak dinyana membukakan
pintu rejeki kita. Tapi gengsi tetaplah gengsi, susah kita kendalikan. Yang perlu
bekerja lebih banyak dalam acara reuni seharusnya memang adalah ikhlas. Nerima keadaan
yang kadang berbanding terbaik dengan teman di masa lampau, tidak menjatuhkan
dan saling menertawakan. Kita hanya perlu bernostalgia mengenang masa masa yang
terdengar lucu jika diceritakan pada masa ini. Bersilaturahim, saling
menanyakan kabar dan berbagi senyum. Reuni sesungguhnya adalah satu acara yang
indah bukan? Tentu , Jika kita tidak memperbincangkan pencapaian hal yang
berbau duniawi dari masing-masing si pereuni. Tapi susah juga nampaknya ya..
hehe.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar