Berbincang-Bincang dengan Ayah.

Ayah, saat datang dengan gagah untuk melamar Ibuk.

"Ayah, apalagi yang bisa kulakukan saat sedang merindukanmu jika tidak mendoakan dan mengenang apapun yang baik dari Engkau? Maka akan kukenang kehadiranmu Yah, tepat setahun setelah engkau pulang pada-Nya." 


Ayah ingat tidak dengan Erin saat Sekolah Dasar? Mari Yah kubantu mengingatnya.

Erin SD adalah Erin yang sering dimarahin oleh Ayahnya karena bertengkar dengan kakak laki-lakinya. Erin SD adalah Erin yang malu karena Ayahnya selalu memakai sandal jepit kemana-mana. Erin SD adalah Erin yang setiap sehabis sholat maghrib mendengarkan dongeng islami dari Ayahnya. Erin SD adalah Erin yang dibanggakan oleh Ayahnya karena nilai Matematika yang bagus. Erin SD adalah Erin yang setiap pagi diantar Ayahnya dengan sarapan terburu-buru karena takut terlambat masuk sekolah. Erin SD adalah Erin yang ngambek karena diajak kumpul keluarga Ayah padahal sedang asik bermain dengan sepupu-sepupu dari Ibu. Erin SD adalah Erin yang takut dengan laba-laba dan Ayah menggendongnya untuk menghindari hewan tersebut. Erin SD adalah Erin yang kerap diomelin karena diam-diam menyusup kamar Ayah saat takut tidur sendirian di lantai atas. Erin SD adalah Erin yang bahagia karena Ayahnya membawakan durian sepulang mengajar. Erin SD adalah Erin yang pernah memalsukan tanda tangan Ayah untuk buku amalan ibadah karena takut  dimarahin guru agama. Erin SD adalah Erin yang takut dengan ombak saat Ayah mengajaknya ke laut, dan Ayah bilang bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Erin SD adalah Erin yang sebel pada Ayahnya karena memberikan nama seperti seorang laki-laki yaitu “Jauharin” . Erin SD adalah Erin yang bangga menjadi seorang putri dari Bapak Mohammad Thohir Hudan. Erin SD begitu bandel ya Yah, sampai-sampai tak Engkau ijinkan putrimu itu melanjutkan pendidikan di sekolah negeri saat SMP. Begitu banyak kenangan yang terekam saat Erin masih Sekolah Dasar Yah..  Semoga Ayah tersenyum mengingat semua itu di Surga sana. 

    Putrimu sedang mendengarkan lagu-lagu Ebiet G.Ade malam ini Yah, lagu favorit Ayah saat berkendara. Lagu ini mengantarkan Erin pada ingatan saat Ayah mengantarkanku ke Arrisalah, pondok pesantren anak-anak di Kota Kediri. Penuh haru kala itu ya Yah..  Wajah ibuk murung karena akan berpisah begitu jauh dengan putrinya, tapi Ayah membuat suasana menjadi riang karena selalu menggodaku dengan kalimat “hayooo.. mangan sego jagung karo iwak asin terus lo mariki..” dan Ibuk akan tertawa setelahnya karena gambaran Ayah tentang pesantren selalu yang gak enak gak enak, padahal Arrisalah tidak semengerikan itu.

    Setiap Jumat legi (hari sambangan) Erin selalu mengharapkan kedatangan Ayah kala itu, banyak sekali yang ingin Erin ceritakan tentang banyak hal menarik di pesantren. Meski komentar Ayah setelah mendengar ceritaku selalu “Yowes, kan sudah terjadi, sekarang sudah gak sakit lagi kan? Sekarang sudah gak dihukum lagi kan?” atau “sekarang bisa makan enak kan?” . Begitulah Ayah, enggan mengenang hal-hal kurang menyenangkan di masa lampau.  Terimakasih ya Yah.. sudah datang jauh jauh dari Jember ke Kediri untuk menjenguk putrimu setiap bulan. Meski pernah suatu ketika Ayah tidak datang. Hari itu bukan cuma hari yang sedih atas ketidakhadiran Ayah, namun juga mencemaskan, karena keponakan Ayah (Mas Nanang) menyampaikan kabar kurang enak : “Ayah masuk rumah sakit Rin, tapi sekarang sudah baik-baik saja” . Terimakasih ya Yah sekali lagi sudah berjuang keras untuk memberikan pendidikan terbaik untuk Erin, semoga prestasi yang sedikit saat SMP itu pernah menjadi penghibur lelah Ayah. 

    Erin yang beranjak dewasa sepertinya sudah semakin berani membantah ya Yah. Kata Erin remaja pengalaman adalah segala-galanya, nilai akademis hanyalah angka di atas selembar kertas. Sering kali kekhawatiran Ayah tertuang menjadi larangan-larangan atas kegiatan yang tak ada sangkut pautnya dengan akademis. Di Blog ini juga Erin pernah menuliskan tentang ketidaksetujuan atas sikap Ayah tersebut. Namun ternyata salah ya Yah, semua itu adalah bentuk cinta seorang Ayah terhadap anak gadisnya. Dan tidak ada benar dan salah soal cinta.

    Ayah mendapat cobaan cukup berat 4 tahun yang lalu, tiba-tiba stroke menyerangnya di pagi hari. Wajah Ayah miring, kakinya lemas tidak bisa jalan dengan tegap. Banyak hal tak bisa Ayah lakukan seperti saat ia masih gagah dan sehat. Daya ingatnya menjadi kurang baik, emosionalnya tidak stabil. Ayah, saat itu adalah seseorang yang berharap dengan berobat kesana kemari akan kembali kuat seperti sedia kala. Dapat bekerja, pergi kemanapun, dan makan enak sesukanya.    

   Saat itu kesabaran kami juga sedang diuji Yah. Ibuk berusaha sangat keras membantu Ayah mengelola Meubel yang hampir saja ‘bangkrut’ , Ibuk berusaha keras menemani saat-saat sulit Ayah menghadapi ujian dari Allah dan Erin pun berusaha keras memahami keadaan yang sudah tidak sama lagi. Bagian sulit ini sebaiknya tidak perlu kita ingat dalam-dalam ya Yah, toh pada akhirnya Ayah menjadi seseorang yang ikhlas atas ujian tersebut.

  Setahun terakhir sebelum kepergian Ayah, Erin memilih untuk merantau ke kota orang. Pendiriannya tetap : pengalaman adalah segala-galanya. Meski bagi Ibuk dan Ayah mungkin berat melepaskan anak gadisnya jauh dari rumah. Namun ternyata hal itu membuat Erin merasa dekat dengan Ayah. Dan pulang ke rumah menjadi sebuah kerinduan tersendiri karena selalu terjadi perbincangan hangat antara Ayah dan putrinya tentang apapun. Maafkan putrimu ya Yah, karena setahun terakhir itu tidak lagi bisa intens menemanimu berobat.

Seminggu sebelum kepergian Ayah, Erin pulang dengan tanpa membawa kabar apapun mengenai ‘calon pendamping hidup’ . Padahal Ayah selalu menanyakannya  secara tersirat, dan Erin akan mengalihkan perbincangan itu.

Seminggu sebelum kepergian Ayah, Ayah bilang ingin makan pisang, dan Erin membelikannya untuk Ayah meski sempat hampir tidak menemukan pisang seperti yang Ayah maksud.

Seminggu sebelum kepergian Ayah, Ibuk bilang bahwa urusan pensiunan Ayah sudah rampung, hutang Ayah telah lunas, ada kelegaan di wajah Ayah.

Seminggu sebelum kepergian Ayah, Erin menceritakan rencana-rencana tentang masa depan. Tentang keinginan untuk kuliah lagi, tentang keinginan untuk membeli mobil dan membawa Ayah jalan-jalan.

Seminggu sebelum kepergian Ayah, Ayah menemani Erin menunggu travel yang datang begitu larut, padahal biasanya Ayah tidur terlebih dahulu.

Ternyata malam itu adalah malam perjumpaan kita yang terakhir Yah…
Seminggu setelah itu Erin datang tapi Ayah memejamkan mata. Erin saksikan sendiri bagaimana detak jantung Ayah berhenti perlahan-lahan. Kemudian Dokter menyatakan bahwa engkau “telah kapundut” . Orang-orang bilang kami musti ikhlas Yah… Dan kami berusaha untuk itu.
  
Kini engkau benar-benar  telah tiada Yah, tapi masih banyak orang yang membicarakan kebaikan-kebaikanmu.

Ayahmu itu pekerja keras, merantau jauh-jauh buka usaha meubel dan sukses” 
Buk, kalau saya lihat kuburan Pak Tohir mesti saya bersihkan karena saya ingat Pak tohir itu selalu ingat saya kalau bagi-bagi zakat
Pak Tohir itu orang yang baik , suka bawa makanan kalau ke sekolah”
“Ayahmu itu wawasannya luas, diajak ngomong apapun nyambung”

Dan lain lain………………


Ayah, putrimu bangga padamu. 
Satu hal yang Erin pahami kini: Tidak semua Cinta dapat disampaikan dengan kalimat-kalimat yang indah, Ayah memang kaku dan cukup keras kepala, tapi tanggung jawab Ayah sebagai kepala keluarga benar-benar Ayah Jalankan dengan baik, dan itulah bentuk cinta Ayah kepada kami. Terimakasih banyak Ayah, semoga Tuhan membalas semuanya dengan menjaga Ayah di Surga sana.


Salam Cinta,

Jauharin Insiyah,
Putri kecilmu yang selalu riang saat mendengar Engkau bercerita tentang Kancil.







Idul Fitri 1438 H, bersama Ayah di sisi kami. 

Idul Fitri 1439 H , bersama Ayah di hati kami.