Aku ingin bercumbu dengan malam. Dengan gelap yang melekat
pada kulit jalangnya. dengan terang yang terus menebarkan pesona semu . Dengan sepi yang membius hati untuk tetap berdamai . Dengan hembusan
angin yang samar-samar mencekam kalut. Dengan rindu yang terus mengiris jiwa bak
pisau membelah keladi. Tentang tawa, tangis dan cerita angin yang tak dapat
kurasakan lagi hembusnya. Dengan damai aku ingin meresapi semua sari patinya. Sebelum
pagi menyuguhkan embun.
bukan curhat
Suasana pagi di rumah ini tak pernah berbeda. Selalu diiringi
dentingan-dentingan keras karena penghuninya tidak mau segera menyapa mentari
yang mulai naik dari poros terbitnya. Sampai bosan sendiri dibuatnya. Belum
sampai nyawa ini genap kembali menyatu dengan raga, sudah dibuat kabur lagi
karena kaget. Pada akhirnya ikut-ikutan meluapkan emosi karena nyawa serasa
antara ada dan tiada. [lebay ah]
Saya bergegas bangun dari ranjang yang selalu menawarkan
kenyamanan untuk beristirahat merenggangkan otot-otot yang lelah. Mengambil
handphone yang bergelantung di tembok tempat mengisi baterai dan melihat jam
digitalnya menunjukkan pukul 07.00. Ini bukan bangun kesiangan, tetapi bangun
kedua setelah sholat subuh, maklum lah saya memang kerap kali tergoda untuk
bermimpi lagi setelah subuhan. Kemudian , dengan kepala yang sedikit berat
karena kurang tidur saya buka pintu kamar dan mendapati Ayah sedang berdiri di
samping tempat Mas tidur, tepatnya di depan TV.
Langganan:
Postingan (Atom)