Perenungan singkat : Matematikaku sayang :)


diambil dari : http://samuelvincent.deviantart.com/art/sunrise-208297324

Aku ingin segera bertemu dengan wajahmu , pagiuntuk kucanda dan kucumbu. disitu kudapat cintaku..          
(cuplikasn lirik lagu Kontradiksi di Dalam - Ebiet G Ade) 
Sebenarnya malam ini saya akan bercerita tentang Bapak Samsul dan Ibu Jannah, sepasang tunanetra yang tinggal di desa pakis - Jember. Beliau berdua ialah orang-orang [gelap] yang tidak mau hidup dalam kegelapan. Keramahan yang ia hadirkan dalam pertemuan kami tadi siang membuat saya pribadi ingin mengenangnya dalam sebuah tulisan ringan. Namun , sepertinya pikiran saya beranjak memerhatikan satu hal lain di ruas jalan. Hhe. Saya akan menceritakan kisah Bapak samsul dan Ibu Jannah di lain waktu, setelah rencana bertemu beliau lagi telah terealisasi. Semoga teman sekalian jauh dari penasaran, sehingga tidak bertemu dengan kata kecewa seusai membaca cerita saya nanti. J
Di tengah lihainya jari-jari bercerita tentang Bapak samsul, Tiba- tiba saya ingin membuka situs pemrograman mata kuliah yaitu SISTER.

bercuap tanpa [nada]

Pada malam yang tak diijinkan Tuhan bertemu senja barang sekali saja, aku akan terus mengimani bahwa pagi lebih nyata adanya. Lembar baru untuk terus mengubah langkah. Menjadikan mimpi keluar dari dinding-dinding yang tabu. Serta harapan atas kekecewaan yang terlanjur menyetubuhi pola pikir. Menghapuskan air mata yang terlanjur tergenang sia sia.  Percayalah, bahwa sedetik yang baru saja berlalu adalah kesempatan pada detik selanjutnya. Jangan lagi menunggu, senja tidak akan datang bertemu malam tetapi malam adalah gelap yang menciptakan pagi.  

Terlintas



diambil dari : http://dicalva.deviantart.com/art/togetherness-41590024
“Suatu hari nanti saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara mereka, yang bercerita tentang perjuangan yang indah, dimana kita, sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi tuk terus bergerak, meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan.”
Sesekali, tengoklah kawan. Saksikan dengan mata hatimu yang ikhlas bagaimana aku berjuang untuk tetap bangkit meski kau potong kedua kakiku yang nyaris tak memiliki tulang.
Sesekali, teguklah air getir di hadapan kita ini bersama-sama kawan, mungkin hanya manis yang akan terkecap oleh lidah .
Sesekali, bersabarlah kawan. Apa yang kita akan tanamkan, tidak satu atau dua pekan dapat nampak buahnya.  
Sesekali, bernyanyilah bersamaku kawan. Banyak nada yang perlu kita selaraskan agar menjadi nyanyian yang merdu.
Sesekali, aku ingin kau memahamiku kawan. Seperti beku menghentikan air sungai deras berhenti mengalir, tuntutan yang bertubi membuatku mati kaku.
Sesekali, kita memang butuh untuk melebur kutukan alam yang banyak disebut sebagai egoisme.
Sesekali, tidak dua ataupun tiga. Kawan.