pesan pekat pada puisi pantai

untuk hati yang sedang resah
untuk hati yang sedang gundah
untuk hati yang tak terarah
lihatlah..
dengarlah..
tegarnya pantai yang membentang
tak peduli dahsyatnya gelombang
mengguncang malam
mengubah tenang
dalam pasang maupun surut
dalam bening mupun keruh
tak memandang seberapa pekat
akan tetap selalu kuat
karena genggaman erat
untuk selamanya kau sabar... 

lirik lagu sederhana namun penuh makna. ditulis karena desakan seorang teman yang baik,
dan karena perbincangan santai tentang pantai. terimaksih kamu telah membuatnya menjadi lagu yang indah.
selamat mendengarkan, jika berkenan :) Pesan pekat pada puisi pantai



sementara judulnya -Jingga- :)

engkau jingga di ujung temaram
tidakkah engkau mengenali manusia seribu mimpi ini
engkau jingga di ujung temaram
beri satu alasan mengapa aku harus melewatkanmu
sedekat dan sejauh apapun alasan itu tak akan pernah kucari

katakan padaku apa arti terangmu
katakan padaku kemana kau pergi saat senja menjelang
samar-samar aku menerka makna
bising telingaku mendengar keluh
mulutku gagu menyuarakan perih
aku buta memandang hidup

jingga, sematkan jemarimu padaku
bawa aku ikut mengitari porosmu
mencari arti hidup yang tak kunjung dapat kupahami
jingga, redamkan sepiku,
padamkan ketakutanku
nyalakan kekuatanku
pupuskan kekawatiranku. 
jingga..

Trip to Ijen :)

Tulisan ini mungkin sudah terlambat untuk di posting ke sampah yang mulai terlupakan sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi apa salahnya tetap merangkai kisah yang menurutku adalah satu warna baru dalam hidup. Bermula dari perbincangan dengan seorang teman yang kesemuanya sudah pernah merasakan indahnya begitu dekat dengan langit. Aku ajak saja mereka untuk mengantarkanku jalan-jalan menikmati keindahan alam dari puncak gunung. Terdengar main-main sih kala itu, tapi teman-temanku yang baik tetap meng-iya-kan ajakan main-mainku .  sambil berkata “paling yo ngomong tok”  . tapi saya tetap ngotot menetapkan kalau tanggal 23agustus kami harus naik ke Ijen, meski sedikit ragu. Sms terkirim ke banyak nama yang tertera di kontak telepon. Bertubi-tubi menyerukan ajakan untuk ikut mengantarkanku melihat kawah yang cukup fenomenal di Indonesia. Satu dua orang mulai sepakat untuk ikut mengeksplorasi alam ciptaan Tuhan-ku yang mengagumkan.  Rencananya kami akan bermalam di paltuding (tempat pemberhentian terakhir kendaran) dan mulai naik ke puncak pada pukul ) 02.00 dini hari. Oleh karenanya temanku Bima menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk bermalam disana. Meski pada akhirnya semua persiapan meleset dari apa yang direncanakan. Haha. Tetap jempol untuk Bima yang baik. J enam orang tercatat di dalam list pendamping jalan-jalan kali ini. Cepi, Alfian, Maya, Bima, Feri dan Fadchur yang masih diselimuti keraguan.