absurd

diambil dari http://simaso.deviantart.com/art/Winter-landscape-347906408
Aku pernah mengimani bahwa jarak adalah satu spasi yang akan menjadikan hidup lebih hidup. Jarak yang terpisahkan oleh ribuan langkah kaki, jarak yang menjadikan dekat teramat jauh, ataupun jarak yang tak pernah mampu kita temukan penyebrangnya.
Sekali saja, beri satu alasan mengapa aku harus menghancurkan jarak yang memisahkan langit dengan bumi. Sejauh dan sedekat apapun tak pernah kutemukan. Bumi melahirkan pepohonan dan Langit memberikannya air. Ada rindu diantaranya. Barangkali, memang benar jarak dicipta untuk makna.
“kau percaya?”
“tidak, jarak hanya pembenaran untuk alasan yang tak kau temukan”

Bensin Pengingat-

Saya tidak memiliki aktivitas padat hari ini, lebih memilih diam di rumah saja karena sedang bosan mendengarkan omelen-omelan ayah maupun ibuk. Semalam berpikir seharusnya memang demikian, saya harus punya waktu diam di rumah untuk memberikan perhatian-perhatian lebih pada tugas yang semakin hari terlihat seperti puncak mahameru. Namun kesadaran itu hanya sesaat nangkring di benak ini. Tetap saja akhirnya hanya leyeh-leyeh nonton tv , makan , tidur dan begitu seterusnya. oh ya, rencana khursus mengemudi batal mendadak karena gurunya lagi males ngajar.
            Tepat pukul 11.00 siang akhirnya ibuk memberikan satu perintah untuk membeli kain seragamnya Nizar . Dengan langkah yang masih dihinggapi rasa malas akhirnya ya berangkat juga ke toko kain sentrum.
            Namun, perjalanan menuju Sentrum tidak semulus aspal jalan raya Gajah Mada. Di daerah setelah GOR, tepatnya sebrang jalan pom bensin Gajah Mada motor yang saya kendarai berhenti tiba-tiba. Saya sudah punya firasat sebelumnya kalau itu adalah tanda bensinnya telah habis. Heran juga, sejak saya kuliah kehabisan bensin merupakan satu hal yang sering terjadi di kehidupan saya. Apa itu karena malas ke pom bensin atau sering tidak punya uang  saya juga belum bisa menyadarinya, hhe. Pengalaman kehabisan bensin yang pernah saya alami ada berbagai macam.

Pidato -Erica Goldson-



Beberapa menit yang lalu saya membaca satu judul catatan milik seorang teman tentang pidato wisudawan terbaik di salah satu sekolah Amerika Erica Goldson . berikut cuplikan pidato seorang wisudawan terbaik tersebut :
“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Aku [Perempuan]


Malam ini teman-teman Alpha kembali meluangkan waktunya untuk nonton film bareng dan berdiskusi bersama. Kegiatan mingguan yang kami adakan dadakan ini adalah salah satu usaha untuk memotivasi teman-teman magang agar semangat untuk menulis. Momen-momen semacam itu adalah satu hal yang kerap kali menjadi kekuatan tersendiri bagi saya untuk terus menghidupkan Alpha, apalagi jika yang hadir bisa mencapai angka sepuluh. Namun , dalam kesempatan baik ini lagi-lagi saya belum mampu hadir secara penuh. Pasalnya peraturan di rumah mengharuskan saya untuk tidak beranjak pergi. Hujan deras yang mengguyur jember sedari sore menjadi alasan kuat dalam larangan untuk keluar malam. Ibuk marah-marah ketika ijin menghadiri Nobar saya lontarkan. Saya tidak bisa memberi alasan kuat kenapa harus menghadiri acara malam ini. Ibuk bilang bahwa saya tidak punya aturan, tiap hari pulang larut (padahal gak pernah lebih dari jam 10) , sabtu minggu tidak pernah di rumah, bahkan beliau berkata lebih baik tidak usah pulang ke rumah saja sekalian kalau tidak mau menuruti peraturan di rumah. Dan akhirnya

Merenung [lagi]


Susan, Susan, Susan, Besok gede mau jadi apa?  Aku kepingin pinter, Biar jadi dokter 
Kalau kalau benar, Jadi dokter kamu mau apa?  Mau suntik orang lewat, Jus jus jus
Ria : Lho kalau nggak sakit kenapa disuntik? Susan : Biar obatnya laku . 
Susan susan susan, Cita-citamu apa lagi ? Aku kepingin jujur, Biar jadi insinyur 
Kalau kalau benar, Jadi insinyur mau apa? 
Mau bangun gedung bertingkat, Jadi kon melorot oh, Konme kon melarat Konglomerat
Cita-citaku (cita-citaku), Kepingin jadi dokterCita-citaku (cita-citaku), Ingin jadi insinyurCita-citaku (cita-citaku), Menjadi anak pinterCita-citaku (cita-citaku), Ingin jadi presiden

Tujuh belas tahun silam, lagu yang kerap dinyanyikan oleh kak Ria dan susan tersebut ada dalam satu list lagu favorit saya. Pun ketika banyak orang di sekitar (ayah, ibuk, atau bu guru di sekolah) bertanya dengan bangganya “Cita-citamu jadi apa?” selalu lantang menjawab, “aku ingin jadi dokter” .

Dedicate to RANAZ :)

Hari ini entah bagaimana aku harus memulainya, rasanya suram dan hanya mampu bergelayut dengan  malas-malas yang enggan pergi. Bangun tidur, mengerjakan pekerjaan rumah dan sedikit terpaksa membantu ibu pergi kesana kemari. Mengabaikan sms-sms yang masuk dan tidak membalasnya, bukan, lebih tepatnya hape saya baru bisa berdering sekitar setengah dua belas. Kelakuan operator beberapa waktu ini tidak pernah bisa saya mafhumi, pasalya sms-sms yang masuk bukan hanya sekedar sms, terdapat beberapa sms yang perlu dan harus dibalas. sudahlah saya tidak akan memperpanjang masalah operator, anggap saja mereka sedang galau karena kekurangan pelanggan :D hhe, jahatnya.
Seperti biasa, saya harus pergi ke kampus dan menjalankan aktivitas sebagai mahasiswa.