Markibung

bing beng bang yok kita ke bank
bang bing bung yok kita nabung
tang ting tung hey jangan di hitung 
tau tau nanti kita dapat untung                      --lirik lagu 'Menabung' 
Tadi siang ibuk meminta saya untuk mengantarnya ke BRI (Bank Rakyat Indonesia) cabang sepusari untuk mengambil uang tabungan miliknya, karena ATM yang saya pegang beberapa waktu lalu telah sukses menjadi korban keteledoran. Haha. Ibuk males mengurus surat kehilangan ke kantor polisi dan harus pergi ke BRI pusat untuk mengurus ATM hilang, oleh karenanya Beliau berencana untuk menutup rekening miliknya di BRI dan membuat rekening baru di BCA (Bank central Asia). Selain itu, urusan transaksi pembelian kayu juga musti menggunakan jasa bank tersebut, sehingga akan mempermudah prosesinya. Dan saya, sebagai seseorang yang di dalam dompetnya terdapat beberapa kartu ATM (milik ayah dan ibuk) tapi bukan atas nama sendiri merasa ingin sekali memiliki rekening pribadi atas nama Jauharin Insiyah. Dengan sedikit merayu-rayu ibuk untuk mengatasnamakan rekeningnya sebagai Jauharin Insiyah akhirnya mendapat lampu hijau.

Kemudian setelah mengantar ibuk kembali pulang saya bergegas pergi ke BCA pusat untuk membuat rekening baru. Setelah melakukan beberapa prosedur pembuatan rekening baru *clinggg* jadilah sekarang saya mempunyai ATM dan buku tabungan dengan nama pemilik Jauharin Insiyah. Ada perasaan sedikit keren ketika memiliki sebuah tabungan dan tercetak sejumlah nominal uang di dalam buku tabungan. saya sudah sukses punya tabungan yang bohong-bohongan. Haha. dan siap untuk bertransaksi bohong bohongan juga dengan rekening baru. Sungguh betapa konyolnya tingkah saya untuk hal ini. Tapi tetap saja , saya merasa keren punya ATM gold BCA. :D

Ngomong-ngomong soal menabung, jika melihat track record kehidupan saya soal menabung sungguh tidak ada bagus bagusnya. Nominal uang dalam celengan saya tidak pernah mencapai angka di atas Rp 100.000 selama hidup. ujung ujungnya pasti kebobolan. Untung pelakunya adalah tangan sendiri. padahal ya.. kalau kita punya uang simpanan berlebih tentu akan mempermudah beberapa selulit kehidupan nantinya. Sebenarnya kalau diingat-ingat , ibuk memiliki kebiasaan menabung yang cukup oke di keluarga. Beliau selalu menyisihkan uang-uang lebihnya untuk ditabung. Terbukti jika pada akhir-akhir masa beberapa tanggungan bertemu dengan deadline dan ayah tidak bisa membereskannya ibuk selalu siap sedia dengan tabungannya.
Saya juga punya beberapa rahasia tentang ayah soal menabung. beliau selalu menyisihkan uang koin Rp 500 atau Rp 1000 di dalam kaleng bekas yang sudah di lem erat. Setelah bulan Ramadhan tiba beliau akan menukarnya dengan uang kertas dan menzakatkan uang hasil menabung tersebut. Dengan begitu berzakat tentu terasa ringan . Namun sayangnya, dua tahun terakhir ini kebiasaan pengumpulan uang koin tidak lagi dijalaninya.

Ada yang sedikit mencengangkan dari perkataan salah satu pendiri anak alam di bali dalam acara Lentera NetTv kemarin sore. Saat meyakinkan ibunya soal kegiatan social non berbayar yang dilakukannya ia berkata ‘anggap saja kita sedang menabung karma untuk masa depan’ . Mungkin maksutnya adalah ketika kita membantu orang lain yang membutuhkan suatu saat kita pun akan mudah mendapat bantuan saat membutuhkannya. Seperti kata hukum newton III  Apabila sebuah benda memberikan gaya kepada benda lain, maka benda kedua memberikan gaya kepada benda yang pertama. Kedua gaya tersebut memiliki besar yang sama tetapi berlawanan arah. (Maaf terkadang saya memang suka menyambung-nyambungkan sesuatu yang kurang nyambung, tapi menurut saya itu nyambung sama konsep datangnya karma. hehe) Namun bukan berarti kegiatan berbagi yang dilakukannya adalah semata-mata untuk mendapat imbalan, saya pikir tidak.
MARKIBUNG, MARI KITA MENABUNG . Apapun yang bisa kita tabung. Uang, ketulusan, rindu, dan segala hal yang baik baik saja.  Jangan sampai menabung amarah, pasti menyesakkan dada dan jelas menyusutkan berat badan, karena api dalam dirimu akan membakar lemak yang bertumpuk-tumpuk. hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar