Kakak pulang terlalu pagi



Semalam suntuk aku membiarkan air mataku terurai. Menyakiti bagian tubuhku dengan benturan-benturan bodoh yang kulakukan sendiri karena kesal. Marah pada perempuan itu, yang entah kenapa sangat sulit kuterima sebagai kakak, meski sejatinya hanya ia satu-satunya keluarga yang sekarang berada di sisiku. Bagaimana tidak, untuk menghadiahkanku  sebuah tas yang teramat sangat kuinginkan saja ia tak mau, padahal harganya tak sebanding dengan berlian, emas atau apalah itu yang bagi kebanyakan orang sangatlah mahal. Bukan tentang gaya atau tentang fashion, tapi ini tentang keadaan tasku. Jahitan kain yang sudah bertahun-tahun menemaniku sekolah ini sudah benar-benar tak layak untuk menopang buku-buku pelajaran sekolahku. Tas itu sudah teramat tua untuk bekerja, pensiun lebih tepatnya.tapi Ani tak pernah peduli itu, yang ia tau hanyalah bagaimana ia bisa menjual kue-kue anehnya setiap hari. Aku tau, pengahsilan seorang penjual kue kecil tak akan sama dengan pengahsilan para wakil rakyat, tak heran jika tas seharga Rp 40.000 dirasa teramat mahal. Tapi, bukankah ia termasuk salah seorang siswa penerima beasiswa? Mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membeli tas yang layak untukku mungkin bukanlah  beban berat layaknya beban yang dipikul para penguasa negeri ini. Agh, aku benci keadaan ini. Andai saja orang tuaku masih hidup, dan andai saja kakakku itu bisa lebih berguna. tidak, aku tidak menyebutnya sebagai kakak. Jahat memang, tapi itulah kenyataan.
Dari sudut pandang dia mungkin aku terlalu jahat dan egois, terlalu berlebihan, kekanak-kanakan dan benar-benar keterlaluan.