Mengingat : Cerita di Balik Pembuatan SIM C

          Saya masih berkutat dengan susunan kalimat pada lembar latarbelakang skripsi. Ada materi yang belum saya pahami, hal itu membuat jalannya paragraf tidak mengalir dengan baik. Karena bosan berpikir, saya mengarahkan cursor untuk membuka halaman twitter.com pada jendela baru. Untuk sekedar stalking akun pujaan hati ataupun membaca banyak hal pada timeline. Ada yang menarik perhatian siang ini, sebuah judul tulisan yang di share oleh akun kompasiana –Sim Lewat Calo Bisa Kenapa Harus Susah Payah Ujian-. Dalam tulisannya si penulis bercerita tentang teman yang menerima tawaran calo dalam prosesi pembuatan SIM.
         Akhirnya, pikiran saya melayang-layang jauh kembali pada masa duduk di bangku sekolah 5 tahun yang lalu, tepatnya saat berstatus sebagai siswa kelas XII MAN Jember 1.  
         Masih saya ingat betul kapan pertama kali saya tertarik untuk membuat SIM C di Satlantas. Saat libur sekolah semester satu, Ima dan Mahda tiba-tiba menelepon dan mengajak saya untuk berlatih mengendarai motor di tempat test praktek pembuatan SIM. Saya belum pernah punya niat untuk membuat SIM kala itu, tidak tau prosedur dan malas tentunya. Tapi pada saat mengatakannya pada Ayah, dengan semangat 45 beliau menyuruh saya ikut Ima dan Mahda untuk membuat SIM bersama. Ayah sedikit bercerita tentang bagaimana SIM itu nantinya akan berguna pada saat ada polisi datang menghadang (maklum, sejak pertama kali diberi tanggung jawab merawat motor Revo tercinta -kelas XI semester 2 tepatnya- belum pernah berhadapan langsung dengan polisi lalu lintas) . Kemudian kaki saya tertarik pergi menyusul Ima dan Mahda di Satlantas untuk berlatih melewati rintangan-rintangan saat test nantinya. Matahari begitu terik, tapi kami tetap semangat bermandi peluh guna melancarkan diri berkendara. Sesekali berfoto dan menyapa pak polisi yang bertugas. Hal itu kami lakukan empat hari berturut-turut setiap siang menjelang sore tanpa lelah dengan hati riang.

        Setelah merasa mantap dan cukup lancar, tibalah saatnya kami perlu melengkapi beberapa kelengkapan membuat SIM. Contohnya surat pengantar dari desa untuk membuat SIM (karena belum punya KTP). Pada saat mengambil surat yang telah jadi di kantor kelurahan saya bertemu dengan bapak Munir, tetangga yang mengenal ayah namun tidak saya kenali. Haha. dia berkata bahwa jika ingin membuat SIM saya harus menemui mbak Vika saja, istrinya mas Alfin (kalau mas Alfin saya kenal). Karena penasaran akhirnya saat pergi ke satlantas untuk mendaftar saya mengajak ima dan mahda  mencari keberadaan mbak vika terlebih dahulu. Lucunya, saat itu saya tidak tau wajahnya dan tidak mengenalnya . dilematis. Tapi Tuhan maha baik, mempertemukan kami dengan mbak vika yang cantik di tempat fotocopy depan satlantas. Saat saya bercerita kalau akan membuat SIM dan pak Munir meminta saya untuk menemuinya , dia langsung bilang “nanti malam kalian bertiga ke rumah ya..sehabis maghrib “  . Kami mengiyakan dengan sedikit ragu, pasalnya dia tidak berkata hal lain selain itu.
        Siang berganti sore, dan malam pun tiba. Kami bertiga pergi ke rumah mbak vika dengan perasaan tetap riang gembira. Ternyata, sesampainya disana mbak vika memberikan kami khursus menjawab ujian tulis membuat SIM C. Kami diberi materi tentang rambu-rambu lalu lintas dan banyak hal yang berkenaan tentang peraturan lalu lintas. Mbak vika mengajari dengan telaten bagaimana cara menjawab soal-soal ujian tulis nantinya. Banyak yang kami tanyakan dan pelajari soal lalu lintas. “Awas ya kalo besok ada yang gak lulus test ujian tulis.. “ katanya memberi semangat pada kami. Mbak Vika menjelaskan kalau ujian tulis tidak bisa pakai calo, oleh karena itu kami harus lulus. Saya jadi terharu dengan kejadian khursus test tulis ujian SIM dadakan malam itu.
         Hari jumat tiba. Saya , Ima dan Mahda sudah siap mengikuti ujian test SIM C di Satlantas. Teman ujian yang juga mendaftar terlihat cukup berumur semua. Hanya ada beberapa saja yang berwajah unyu seperti kami. Hehe. Kami duduk saling membuntut saat ujian. Mahda di depan, saya di belakangnya dan Ima di belakang saya. Teman sebangku kami semuanya bapak-bapak. Haha. Lucu juga ujian dengan bapak-bapak dan ibu-ibu. Ujian berjalan dengan khidmat. Bagaimana tidak, sistem ujian sudah canggih. Kami tidak perlu menggunakan kertas untuk menjawab soal, hanya duduk manis melihat viewer dan mendengarkan polisi membacakan soal ujian kemudian memencet tombol di masing masing bangku untuk menjawab. Tidak ada kesempatan contek mencontek, penjaga ujian terlihat mengerikan di belakang ruangan. Setelah semua soal selesai ditampilkan kemudian muncullah kunci jawaban serta pembahasaan mengenai soal soal yang telah diujikan. Ruang ujian berubah gaduh ketika nilai muncul secara otomatis seusainya. Nilai minimal agar bisa melaju ke tahap selanjutnya adalah 6,5 (kalau tidak salah ingat) . Jika gagal, harus mengikuti test ulang seminggu kemudian. Banyak yang kecewa saat itu termasuk bapak sebangku saya. Tapi tidak dengan kami. Mahda mendapat score tertinggi dengan angka 80, ima dan saya memperoleh nilai 75. Tertinggi kedua. Hahaha.
        Dan sampailah kami pada tahap yang mengerikan, yaitu ujian praktek SIM C. Masing masing peserta diberi nomer punggung ujian dan diminta berkumpul di tempat ujian untuk mengantri giliran. Lokasi terlihat begitu ramai, tribun di sebelah tempat ujian dipenuhi oleh pengantar. Jujur, saya benar-benar grogi saat itu. Ketika bapak polisi memanggil nama Jauharin Insiyah, perasaan langsung berubah tidak karuan. Lintasan yang sebelumnya terlihat baik baik saja seolah menyihir tangan menjadi kaku. Sampai-sampai saya harus memutar start lebih dari tiga kali (seharusnya sih cukup dua kali) . Karena pak polisi melihat gelagat kegrogian, dia meminta untuk berhenti sejenak agar saya mengatur nafas. Mahda dan Ima terlihat memberi semangat. Ndilalah, saat baru pertama kali melewati rute pertama yaitu lintasan zigzag, saya menyenggol pipa dan dengan reflek menurunkan kedua kaki kemudian menoleh ke belakang “yahh.. pak… jatuh..” . Seketika itu saya dinyatakan gagal test. Haha. sungguh memalukan. Aturan yang berlaku adalah saat peserta melakukan pelanggaran ketiga kalinya otomatis sudah dinyatakan tidak lulus. Menurunkan satu kaki dinilai sebagai satu kali pelanggaran, jika dua kaki berarati dua kali lipatnya. Menjatuhkan pipa di rute zigzag juga termasuk pelanggaran. Selain itu adalah keluar dari lintasan ujian. Saya hampir menangis karena dengan refleknya melakukan kekonyolan di tengah ujian. Padahal kalau bisa sedikit lebih tenang, saya bisa melanjutkan rute tanpa harus menurunkan kaki.
        Kekesalan bertambah saat Ima dan Mahda sama sama sukses lolos ujian praktek. Mereka berdua bisa mengantongi SIM C saat itu juga, sedangkan saya harus kembali seminggu kemudian. Peserta gagal test praktek mendapat dua kesempatan ujian seminggu setelahnya. Namun saat ketiga kalinya gagal, peserta harus kembali ikut test tulis ulang. Saat bertemu Mas Alfin dia berkata “udah nembak aja.. susah lo praktek itu. Mau gak? 300rb aja nanti tak bantu ngurusin” . Saya hanya senyam-senyum mendengarnya. Ima dan Mahda ini teman super oke, mereka tetap menghibur saya yang tidak lolos ujian dan tidak merasa sok karena berhasil lulus. Bertubi semangat dijejalkannya agar saya berlatih dengan giat lagi esok hari. Mereka berkata bahwa akan siap menemani proses latihan dan kesempatan ujian selanjutnya. Mereka juga mewaspadai untuk tidak terbujuk calo SIM . “kalau kamu dapet SIM karena lulus test, perasaanmu pasti akan beda Rin” ujar Mahda. 
Karena dukungan dari mereka berdua, saya jadi gemar main ke satlantas untuk latihan test. Sampai sampai kenal baik dengan pak polisi yang sering berkeliaran di sekitar tempat latihan.
Hari jumat datang lagi, saya sudah siap dengan nomor punggung ujian untuk kedua kalinya. Namun kegagalan datang lagi. Sama seperti sebelumnya, saat dilihat oleh banyak orang  grogi selalu menyelimuti perasaan yang efeknya adalah menyetir menjadi kaku. Berulang, saya mendapat tawaran untuk membayar lebih saja agar tidak perlu susah susah ikut ujian. Tapi mahda dan ima tetep keukeh pula menghadang tawaran calo dengan menjejajali saya semangat yang berapi api. Hehe. Sampai akhirnya pada kesempatan terakhir saya test , Tuhan mengurangi perasaan grogi saat melewati lintasan. Akhirnya “saya lulus” .   
        Mahda dan Ima menemani saya mengikuti prosesi pembuatan SIM sampai selesai. Kemudian, kami berkeliling kota untuk memamerkan SIM C pada dunia. Berkata good bay pada calo calo yang mencoba menggerogoti uang saya. Haha. Perbedaan biaya saat memakai calo  cukup besar. Jika mengikuti test saya hanya perlu membayar Rp 115.000. Namun jika memakai jasa calo, saya harus mengeluarkan uang Rp 400.000 bahkan lebih.
        Untunglah, kala itu saya mempunyai teman-teman baik seperti Mahda dan Ima. Karna jika tidak, pasti saya sudah terlibat dengan praktek suap kecil kecilan di kawasan Satlantas. Pasalnya, ayah pun juga sudah siap dengan uang lebih jika saya tidak mau ujian praktek lagi.
Sekarang saya sudah bisa mengendarai mobil, dan ibuk akan memberikan biaya pembuatan SIM A. Kata guru khursus mengemudi saya, ujian test SIM A itu lebih sulit dibanding SIM C. “udah nanti beli aja SIM A nya rin.. kamu dulu test SIM C aja ngulang tiga kali” ledeknya.

Semoga Tuhan tetap melindungi hambanya ini dari praktek praktek jahat yang merugikan kantong . Dan tentunya semoga saya bisa mendapatkan SIM A dengan lancar tanpa kendala. AMIN . J sekian. 

pak polisi kami jangan ditilang, :D haha.
hanya foto jadul ini yang bisa terselamatkan.
Raisya- Mahda- Erin - Hamim

2 komentar:

  1. Oh... ngurus SIM itu gitu toh sayang. hmm... Semanat ya untuk SIM A nya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah semangat Nda.. tapi uangnya tak kunjung mendekat ini. hehe. semoga lolos tanpa calo caloan ya.. biar kece.. heheh. :D

      Hapus