-Gempita Hati

diambil dari www.devianart.com

 "....kalau kita saling percaya, tak perlu nada tak perlu irama. berjalanlah hanya dengan diam..." -Iwan Fals : Yakinlah- 
Di suatu senja yang begitu jingga, kau datang mengetuk pintu. Aku ragu, hanya mampu mengintipmu di sela tirai yang menganga. Siapa kamu? Darimana asalmu? aku tidak tau. 
Sekian detik kemudian pintu kubuka pelan. Kau memperkenalkan diri dan aku menyambutnya lembut. Parasmu masih asing, namun aku merasa dekat dengan kata kenal. Kulihat, tak ada apapun di tanganmu sore itu.
Menit selanjutnya kubiarkan kau masuk ke dalam. Tak ada yang dapat kusuguhkan, bahkan hanya setetes air. Aku tak bisa menyeduhkan kopi, tak juga dapat membuatkanmu semangkuk hidangan. Kau tak pernah mempermasalahkan itu, karena kedatanganmu bukan untuk meminta apapun dariku. Kita berbincang hingga larut. Tanpa tujuan dan arah yang pasti. Saling memamerkan barisan seri, taring dan geraham. Di luar hujan, gemuruhnya berkali memaksa gendang telinga beresonansi lebih kuat. Namun di dalam tetap tenang, dengan sederet kisah yang kita perdongengkan tanpa jemu.

Kemudian pagi menyapa dengan syahdu, kau dan aku memberanikan diri meracik kopi bersama. Kental, encer, pait, ataupun manis nanti tak pernah kita risaukan. 
Takdir memang susah kita terka. Tuan. J 

sunyi: mengorek masa lalu

Now Playing : Yasudahlah, Bondan prakoso

Tepat setaun yang lalu. Tangisku pecah. Tidak tau bagaimana harus menyikapi ketidakadilan yang kental terasa hati. Rasanya ingin marah pada bebabatuan yang tidak pernah salah. Pada terang lampu jalanan yang tak hentinya menyorot kekalutan itu. Padamu, padanya dan pada kalian. Egoisme di malam itu menyulap terang menjadi gelap, semua buram seketika. Sungguh, sikap kalian memuakkan. 
Pada malam itu, bertubi janji kalian jejalkan. Hanya untuk jadi penghibur agar tangisku redam. Itu saja. Setelah itu dimuntahkan, hingga air mataku kembali deras mengalir di sela-sela tebing yang tak kentara oleh korneamu.
Setelah malam itu, aku terseok. Ditemani oleh ucap yang miris menyayat keyakinan. Terus , kalian lontarkan di tempat yang sunyi dari getarku.
Malam selanjutnya, aku beranjak , ditemani harapan yang tidak pernah diyakini dengan baik. Berjalan. Jatuh. Berlari. Dan sampai pada malam ini. Perihnya mulai pudar. Belum sampai memang, cita cita kita bisa tercapai. Ah, yasudahlah….
Terimakasih, untuk orang orang yang mau terus berjalan denganku. Meski kadang, aku meninggalkan atau bahkan tertinggal.  Mari sama sama mengecap manisnya, pahitnya kita larutkan bersama hujan dan biar saja hilang tertempa angin