Perenungan singkat : Matematikaku sayang :)


diambil dari : http://samuelvincent.deviantart.com/art/sunrise-208297324

Aku ingin segera bertemu dengan wajahmu , pagiuntuk kucanda dan kucumbu. disitu kudapat cintaku..          
(cuplikasn lirik lagu Kontradiksi di Dalam - Ebiet G Ade) 
Sebenarnya malam ini saya akan bercerita tentang Bapak Samsul dan Ibu Jannah, sepasang tunanetra yang tinggal di desa pakis - Jember. Beliau berdua ialah orang-orang [gelap] yang tidak mau hidup dalam kegelapan. Keramahan yang ia hadirkan dalam pertemuan kami tadi siang membuat saya pribadi ingin mengenangnya dalam sebuah tulisan ringan. Namun , sepertinya pikiran saya beranjak memerhatikan satu hal lain di ruas jalan. Hhe. Saya akan menceritakan kisah Bapak samsul dan Ibu Jannah di lain waktu, setelah rencana bertemu beliau lagi telah terealisasi. Semoga teman sekalian jauh dari penasaran, sehingga tidak bertemu dengan kata kecewa seusai membaca cerita saya nanti. J
Di tengah lihainya jari-jari bercerita tentang Bapak samsul, Tiba- tiba saya ingin membuka situs pemrograman mata kuliah yaitu SISTER.
Sejak hari senin lalu, teman-teman mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) tengah disibukkan dengan kegiatan KRS (lupa kepanjangannya) yang jelas Pemrograman Rencana Studi.  Semua sibuk berpikir strategi-strategi jitu untuk memilih mata kuliah apa yang dirasa mampu menguntungkan untuk kenaikan angka indeks prestasi. Berkonsultasi dengan DPA (Dosen Pembimbing Akademik) dan bertanya-tanya tentang gambaran umum si mata kuliah serta cara dosen pengampunya memberi harga pada kerja keras. Hal semacam itu kerap ditemukan di jurusan yang sedang saya geluti, matematika murni.  Apalagi mahasiswa-mahasiswa yang mulai diberi predikat sebagai mahasiswa semester akhir. Mengulang satu mata kuliah adalah hal yang perlu dilakukan dengan hati-hati agar nantinya tidak berbalik jadi boomerang untuk kelangsungan hidup indeks prestasi. Termasuk teman-teman seperjuangan saya, yakni matematika angkatan 2010. Sejak sebelum hari senin datang, mereka semua sudah ramai rasan-rasan soal dosen-dosen pengampu mata kuliah dan juga sibuk mencari teman agar tidak sendirian untuk memperdalam ilmu pengetahuan [baca : mengulang. Haha]. Tidak munafik, saya pun melalukannya. Rencana untuk mengulang mata kuliah Aljabar linear 1 tujuannya adalah menaikkan IP. Nilai. Meskipun pilihan terhadap aljabar linear dijatuhkan karena saya menganggap mampu memahaminya dengan baik, setelah melihat sekilas materi-materi terdahulu. tapi heran juga yaa.. merasa bisa kok dulu nilainya C? haha.  Di lain sisi, saya perlu , menempuh satu mata kuliah lagi agar dapat lulus dengan sks lebih dari 144. Awalnya saya memilih geometri komputasi, sejak sebelum semester 7 dimulai rencana untuk menempuhnya memang telah saya pikirkan. Alasannya apa? Tepat! Karena nilai. Dosen pengampu mata kuliah tersebut ialah dosen yang dapat dikatakan murah akan nilai. Sebelumnya, hampir seluruh mahasiswa penempuh geometri komputasi mendapatkan nilai A dan kuliahnya pun hanya berlangsung setengah semester, banyak waktu kosong . siapa yang tidak tergiur dengan pandangan mata kuliah yang demikian mengingat dosen-dosen matematika yang sudah tidak asing lagi sering memberikan nilai C, D, bahkan E untuk mahasiswanya (selain mahasiswa yang tidak pernah masuk kuliah). Di grup whatsap matematika 2010 pun sedang ramai berbicara soal geometri komputasi. Semua sibuk ingin memilih dalam lembar rencana studinya. Meskipun terdapat mata kuliah pilihan lain banyak ditawarkan, salah satunya ialah Kriptografi. Mata kuliah yang saya pahami lewat aljabar linear 2 ini adalah salah satu ilmu tentang persandian. Kita membuat satu rumusan agar terbentuk satu sandi yang tidak dapat dipecahkan oleh sembarang orang. Mata kuliah kriptorafi diampu oleh Pak Kis, salah satu dosen matematika yang kerap dibilang sedikit ngawur dalam memberikan nilai. Pernah satu ketika, dalam satu kelas yang berjumlah 58 mahasiswa hanya dua orang saja yang diberi nilai B, A tidak ada dan selainnya adalah C dan D. Sejarah nilai mata kuliah dengan pengampu Pak Kis yang saya tempuh pun tidak pernah ada yang oke. Selalu berkutat pada nilai C dan D. Terakhir, nilai saya yang awalnya D hanya berubah menjadi C setelah diulang, dan setelah diulang kembali ternyata tetap pada nilai C. hha.
Namun, ada hal lain yang tiba tiba membuat saya berbalik arah dari geometri komputasi ke matakuliah kriptografi. Saya ingin tau bagaimana seninya membuat sandi rahasia dengan pendekatan-pendekatan matematis. Tentu ini mengejutkan, baru pertama kali saya memilih satu matakuliah karena memang ingin tau tentang ilmunya, bukan karena nilai. Tiba-tiba saya tidak takut berhadapan dengan Pak Kis dan segala ke-ngaak enakan-nya soal nilai. Saya hanya ingin tau hal-hal menarik dari matematika. Beberapa teman meledek, katanya saya perlu bersiap-siap dengan nilai yang diberi nama Cukup ataupun Jelek. Diiringi dengan kata-kata yang terkadang membuat sedikit jengkel ‘Cemunguddd eaa’ . hhaha .
Selama ini, saya merasa bahwa hanya menjadi budak indeks prestasi. Duduk di dalam kelas dan hanya mendengar dosen bercuap-cuap soal persamaan differensial parsial lah, struktur alJabar lah, aljabar linear lah, bootstrap, jackknife dan lain sebagainya yang cenderung membosankan sehingga terkadang membuat saya jengkel dan berkata “ngapain toh belajar ginian, geje banget. Pas kerja juga gak akan ditanyain beginian. Sama mertua juga gak akan ditanyain gimana caranya nyari Rank dan sebagainya” . Aduh, betapa polosnya kata-kata itu.
Malam ini saya merenungkan pola pikir saya tersebut. Selama ini saya hanya belajar matematika dengan pikiran dan rumus, tapi tidak dengan hati. Kenapa saya bilang tidak dengan hati? Ya karena saya masih sering tolol membiarkan ke-nggaktauan-an sebab musabab matematika itu dipelajari. Seharusnya saya sudah mampu melawan kebimbangan itu dengan mengenal para filsuf-filsuf matematika yang disebut sebut sebagai penemu matematika, seperti al-khawarizmi dengan macam-macam teori aljabarnya ataupun phytagoras dengan ilmu hipotenuesanya. Saya pikir, ketika sudah mampu mengenal mereka dengan keingintahuan yang mendalam sedikit banyak pasti akan membantu saya mengenal matematika dengan hati, tidak lagi berorientasi terhadap nilai dan IPK. Pasti akan ada satu hal setidaknya yang bisa saya pegang erat untuk bekal mengarungi hidup nantinya. Tidak hanya sekedar tau rumus-rumus mencari galat. :D hhe. Kalau boleh berpendapat juga, pola pengajaran dosen-dosen matematika yang hanya menjejalkan cara-cara memperoleh rumus saja tentu hanya akan membentuk orang-orang yang kebingungan saja ketika mendapat nilai yang rendah. Teman-teman saya yang IPK nya melebihi angka 3 pun Cuma akan tau bagaimana cara-cara mendapatkan hasil integral dari suatu fungsi yang benar atau semacamnya, tidak tau manfaatnya. Mata kuliah yang dianggap punya manfaat dalam kehidupan hanyalah mata kuliah yang jelas gambaran aplikasinya, seperti riset operasi yang mengajarkan tentang bagaimana cara-cara mendapatkan hasil optimal dari bahan-bahan yang minimal . Contohnya mencari rute terpendek untuk mendistribusikan barang agar diperoleh waktu yang minimal. Tapi untuk struktur aljabar? Geometri? Ga jelas men..
Matematika akan sangat menyenangkan jika dosen dengan bijaknya mengenalkan kami terhadap pendahulu-pendahulu yang dengan segenap hatinya mencetuskan ilmu matematika. Dan sedikit mengajak kami berbincang-bincang soal makna dari ilmu yang dipelajari. Pernah satu ketika salah seorang teman bertanya kepada dosen “pak, kenapa sih kita harus membuktikan segitiga yang jelas-jelas sudah terbukti segitiga?” dosen hanya menjawab “ya, agar kalian tau kenapa bangun ini dikatakan segitiga”. jawaban demikian jelas membingungkan dan meresahkan, yang akhirnya ketika kami tidak mampu mengerjakan soal yang sulit keluar kata-kata penyesalan karena ada di jurusan matematika dan sebagainya.

Saya sedikit menyesal sebenarnya, kenapa baru menyadari hal demikian sekarang, kenapa tidak sedari dulu saya bergerak mencari jawaban-jawaban dari keresahan soal matematika. Ketika orang non eksak berkata bahwa matematika itu keren lo, penuh dengan filsafat tapi saya sendiri justru benci dengan matematika yang tidak jelas. Tapi, saya pikir tidak ada hal yang terlambat selagi kita masih dapat bernafas dengan baik. Semoga saja keresahan ini tidak hanya sekedar angina yang berhembus begitu saja, tapi saya mampu beranjak untuk mampu mencintai matematika. Teman-teman yang baik, pola pikir saya yang seperti ini jangan disalahkan ya.. kalaupun kalian mengerti sejak awal kenapa matematika itu ada tolong dibagi ilmunya kepada saya. Kalaupun kita sama – sama bimbang  soal matematika, mari mulai menghancurkan kebimbangan kebimbangan ini. Indeks prestasi yang terkutuk, jangan membuat hati saya buta olehmu. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar