Terlintas



diambil dari : http://dicalva.deviantart.com/art/togetherness-41590024
“Suatu hari nanti saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara mereka, yang bercerita tentang perjuangan yang indah, dimana kita, sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi tuk terus bergerak, meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan.”
Sesekali, tengoklah kawan. Saksikan dengan mata hatimu yang ikhlas bagaimana aku berjuang untuk tetap bangkit meski kau potong kedua kakiku yang nyaris tak memiliki tulang.
Sesekali, teguklah air getir di hadapan kita ini bersama-sama kawan, mungkin hanya manis yang akan terkecap oleh lidah .
Sesekali, bersabarlah kawan. Apa yang kita akan tanamkan, tidak satu atau dua pekan dapat nampak buahnya.  
Sesekali, bernyanyilah bersamaku kawan. Banyak nada yang perlu kita selaraskan agar menjadi nyanyian yang merdu.
Sesekali, aku ingin kau memahamiku kawan. Seperti beku menghentikan air sungai deras berhenti mengalir, tuntutan yang bertubi membuatku mati kaku.
Sesekali, kita memang butuh untuk melebur kutukan alam yang banyak disebut sebagai egoisme.
Sesekali, tidak dua ataupun tiga. Kawan.  

4 komentar:

  1. Sampai saat ini, saya membenarkan, bahwa pejuang yang baik itu tak pernah mengharap orang lain untuk mencatat sejarahnya. Pula tak menghabiskan waktu tua hanya dengan membolak-balikkan buku orang lain, berharap ada yang menulis tentang riwayat perjuangannya. Di halaman berapa namanya dicatat, tentang eksistensi masa mudanya.

    Pejuang yang tahu diri tidak menanyakan sejarah tentang dirinya. Jangan pernah merisaukan, apakah cerita hidupnya akan ditulis oleh cucunya atau tidak sekalipun. Dia hanya mengajarkan kepada cucunya, tentang bagaimana menjadi manusia yang tahu diri.

    Mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang sudi MENENGOK dan tahu sejarah.
    Manusia yang siap menghadapi hidup yang lebih GETIR serta tak enggan mencicipinya.
    Manusia yang selalu SABAR menuai buah kemenangan.
    Manusia yang bisa menyelaraskan NADA sumbang sekalipun, menjadi lantunan nada yang mendamaikan.
    Manusia simpatik yang tak jijik untuk MEMAHAMI manusia lain.
    Manusia yang tidak hanya ingin mendengar tentang keinginan dirinya saja, YANG BANYAK DISEBUT sebagai EGOISME.
    Sebab menjadi manusia itu hanya SEKALI saja, TIDAK ada yang KEDUA ataupun KETIGAnya.

    (Tulisanmu singkat, tapi cukup menyentuh......)

    BalasHapus