bercuap tanpa [nada]

Pada malam yang tak diijinkan Tuhan bertemu senja barang sekali saja, aku akan terus mengimani bahwa pagi lebih nyata adanya. Lembar baru untuk terus mengubah langkah. Menjadikan mimpi keluar dari dinding-dinding yang tabu. Serta harapan atas kekecewaan yang terlanjur menyetubuhi pola pikir. Menghapuskan air mata yang terlanjur tergenang sia sia.  Percayalah, bahwa sedetik yang baru saja berlalu adalah kesempatan pada detik selanjutnya. Jangan lagi menunggu, senja tidak akan datang bertemu malam tetapi malam adalah gelap yang menciptakan pagi.  

2 komentar:

  1. Malam tak selalu gelap. Malam adalah terang yang menjelma menjadi wajah yang lain...

    BalasHapus
  2. Ya, pagi itu memang lebih nyata.
    Harga keindahanya sebanding dengan harapan kita saat masih malam sebelumnya, bahkan pagi jauh lebih mahal. Demikian, kata orang yang berharap lebih terhadap pagi.

    Namun tidak sedikit orang yang pada kenyataannya tidak siap menghadapi pagi. Sia-sia bukan ? Kedatangannya yang kita tunggu-tunggu sejak malam, namun menjadi tidak berarti begitu saja, lantaran kita gemetar bersahabat dengannya.

    Tuhan, ampunilah aku yang sering mengingkari pagi-Mu. Sudah seharusnya aku malu, aku yang tidak merawat hadiah pagi-Mu.
    Begitulah, traumatik dan rasa bersalah itu kian membukit setinggi gumuk-gumuk di Kota Jember. Hehehe.

    Pagi menakutkan? Maka pagi adalah pobia. Hingga kita akan mengemis kepada Tuhan, untuk tidak segera mendatangkan pagi. Menyuap sang bulan agar malas untuk pulang. Serta mendambakan malam agar terus berbintang.

    Bisik seorang berandal malam dalam lantunan lirik Bang Iwan, “Jangan, jangan pagi kau hadirkan biarkan malam terus berjalan. Jangan, jangan mentari kau terbitkan. Jangan, jangan pagi kau datangkan kumohon dan aku harapkan. Janga, jangan mentari kau terbitkan”

    #Harap maklum ya, hehehe

    BalasHapus