Tepat setaun yang lalu. Tangisku pecah. Tidak tau bagaimana harus menyikapi ketidakadilan yang kental terasa hati. Rasanya ingin marah pada bebabatuan yang tidak pernah salah. Pada terang lampu jalanan yang tak hentinya menyorot kekalutan itu. Padamu, padanya dan pada kalian. Egoisme di malam itu menyulap terang menjadi gelap, semua buram seketika. Sungguh, sikap kalian memuakkan.
Pada malam itu, bertubi janji kalian jejalkan. Hanya untuk jadi penghibur agar tangisku redam. Itu saja. Setelah itu dimuntahkan, hingga air mataku kembali deras mengalir di sela-sela tebing yang tak kentara oleh korneamu.
Setelah malam itu, aku terseok. Ditemani oleh ucap yang miris menyayat keyakinan. Terus , kalian lontarkan di tempat yang sunyi dari getarku.
Malam selanjutnya, aku beranjak , ditemani harapan yang tidak pernah diyakini dengan baik. Berjalan. Jatuh. Berlari. Dan sampai pada malam ini. Perihnya mulai pudar. Belum sampai memang, cita cita kita bisa tercapai. Ah, yasudahlah….
Terimakasih, untuk orang orang yang mau terus berjalan denganku. Meski kadang, aku meninggalkan atau bahkan tertinggal. Mari sama sama mengecap manisnya, pahitnya kita larutkan bersama hujan dan biar saja hilang tertempa angin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar