Aku [Perempuan]


Malam ini teman-teman Alpha kembali meluangkan waktunya untuk nonton film bareng dan berdiskusi bersama. Kegiatan mingguan yang kami adakan dadakan ini adalah salah satu usaha untuk memotivasi teman-teman magang agar semangat untuk menulis. Momen-momen semacam itu adalah satu hal yang kerap kali menjadi kekuatan tersendiri bagi saya untuk terus menghidupkan Alpha, apalagi jika yang hadir bisa mencapai angka sepuluh. Namun , dalam kesempatan baik ini lagi-lagi saya belum mampu hadir secara penuh. Pasalnya peraturan di rumah mengharuskan saya untuk tidak beranjak pergi. Hujan deras yang mengguyur jember sedari sore menjadi alasan kuat dalam larangan untuk keluar malam. Ibuk marah-marah ketika ijin menghadiri Nobar saya lontarkan. Saya tidak bisa memberi alasan kuat kenapa harus menghadiri acara malam ini. Ibuk bilang bahwa saya tidak punya aturan, tiap hari pulang larut (padahal gak pernah lebih dari jam 10) , sabtu minggu tidak pernah di rumah, bahkan beliau berkata lebih baik tidak usah pulang ke rumah saja sekalian kalau tidak mau menuruti peraturan di rumah. Dan akhirnya
saya hanya mampu keluar diam-diam selama sekitar satu jam untuk sekedar mengecek persiapan teman-teman Alpha tanpa mengikuti kegiatannya. Meski pada saat kembali ke rumah sudah dipastikan mendapat nasihat-nasihat yang cukup panjang, saya tetap memberanikan diri. Hal semacam itu sudah sering terjadi dalam keseharian saya, biasanya yang kerap marah-marah karena kegiatan non akademis adalah ayah , ibuk selalu mendukung kegiatan non akademis yang saya lakukan meski tetap ada batasannya. Ibuk yang sering menyuruh saya berbohong saja pada ayah agar tetap dijinkan untuk keluar rumah di luar jam-jam kuliah. Tapi tidak untuk beberapa bulan ini. Saya justru mendapat nasihat-nasihat panjang soal kegiatan non akademis dari keduanya. Entahlah, saya juga tidak mengerti apa yang mereka pikirkan sebenarnya.
Seorang teman berkata pada saya bahwa dia juga diperlakukan demikian saat di rumah, dilarang keluar kesana kemari dan dilarang ini itu. Dan saya selalu membatin ‘berarti ini wajar’. Kalau saya berkata pada siapapun bahwa saya adalah anak perempuan satu-satunya juga selalu terdengar komentar ‘oh..wajarlah’ . terkadang saya berpikir apakah memang benar-benar wajar seoarang anak perempuan dilarang keluar malam dan dilarang berkegiatan non akademis? Apakah seorang anak perempuan seharusnya hanya diam di rumah? Kenapa kakak laki-laki saya diperbolehkan pulang dini hari padahal itu hanya main-main? Kenapa adik laki-laki saya juga sering diperbolehkan keluar untuk bermain futsal di atas jam sepuluh malam? Padahal saya juga selalu ijin baik-baik jika akan menghadiri kegiatan non akademis pada malam hari, tetapi sering ditolak dan akhirnya harus berbohong.
Mungkin yang jadi permasalahan disini adalah pola pikir kedua orang tua saya bahwa anak perempuan seharusnya diam di rumah saja. Mereka pikir tidak elok rasanya anak perempuan keluyuran malam-malam keluar rumah. padahal orang-orang pada jaman  serba modern ini  sering memperbincangkan masalah emansipasi wanita, yang kata kebanyakan orang emansipasi berarti penyamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan gender bukan alasan menjadikan hak seseorang berbeda juga. Apakah itu pertanda bahwa kedua orang tua saya bukanlah orang modern sehingga susah mengeluarkan ijin keluar kepada anak perempuannya ini? Sesak rasanya, tidak pernah mampu terbang secara nyata. Entahlah saya juga tidak sanggup menyimpulkannya. Yang jelas saya tetap percaya bahwa mereka melakukan ini kerena kasih sayangnya yang terhingga, namun caranya tidak mampu saya terima dengan baik. Saya selalu menganut paham bahwa dalam keluarga tetap butuh demokrasi, saya juga seharusnya berhak untuk berbicara tentang peraturan di rumah, dan saya juga berhak berpendapat tentang apa yang benar menurut saya, tidak serta merta dilarang ini itu hanya karena saya seorang perempuan yang selalu dikhawatirkan terjadi sesuatu ketika keluar rumah. apakah nantinya saya juga akan menjadi seorang orang tua yang demikian ketika mempunyai anak perempuan kelak? sepertinya saya juga belum mampu menjawab pertanyaan itu. Hanya mampu berharap semoga pikiran saya tidak berbanding terbalik dengan apa yang saya katakan hari ini.

  

3 komentar: