Saya
tidak memiliki aktivitas padat hari ini, lebih memilih diam di rumah saja
karena sedang bosan mendengarkan omelen-omelan ayah maupun ibuk. Semalam
berpikir seharusnya memang demikian, saya harus punya waktu diam di rumah untuk
memberikan perhatian-perhatian lebih pada tugas yang semakin hari terlihat
seperti puncak mahameru. Namun kesadaran itu hanya sesaat nangkring di benak
ini. Tetap saja akhirnya hanya leyeh-leyeh nonton tv , makan , tidur dan begitu
seterusnya. oh ya, rencana khursus mengemudi batal mendadak karena gurunya lagi
males ngajar.
Tepat pukul 11.00 siang akhirnya ibuk memberikan satu perintah untuk membeli kain seragamnya Nizar . Dengan langkah yang masih dihinggapi rasa malas akhirnya ya berangkat juga ke toko kain sentrum.
Namun, perjalanan menuju Sentrum tidak semulus aspal jalan raya Gajah Mada. Di daerah setelah GOR, tepatnya sebrang jalan pom bensin Gajah Mada motor yang saya kendarai berhenti tiba-tiba. Saya sudah punya firasat sebelumnya kalau itu adalah tanda bensinnya telah habis. Heran juga, sejak saya kuliah kehabisan bensin merupakan satu hal yang sering terjadi di kehidupan saya. Apa itu karena malas ke pom bensin atau sering tidak punya uang saya juga belum bisa menyadarinya, hhe. Pengalaman kehabisan bensin yang pernah saya alami ada berbagai macam.
Kehabisan bensin pada saat tidak membawa uang, kehabisan bensin
pada saat mau ujian, kehabisan bensin malam hari, siang hari malah sering, kehabisan
bensin pada saat hujan lebat, kehabisan bensin di sekitar bundaran semanggi juga pernah. Pada saat itu
toko bensin dekat situ tutup dan handphone
kehabisan baterai, suasananya gerimis membuat saya semakin resah karena tidak
mampu mendorong motor sampai ke atas jembatan. Namun, ada pangeran [biar keren]
mendekat menolong saya, di membiarkan saya menaiki motornya sampai ke atas dan
dia mendorong motor saya. Kemudian kami saling mendorong motor sampai ke pom
bensin di jalan A.Yani. Wah, dia seperti pangeran berkuda putih kala itu yang
menolong seorang puteri yang tengah kesusahan mencari harta karun yaitu bensin.
#plak. Tepat pukul 11.00 siang akhirnya ibuk memberikan satu perintah untuk membeli kain seragamnya Nizar . Dengan langkah yang masih dihinggapi rasa malas akhirnya ya berangkat juga ke toko kain sentrum.
Namun, perjalanan menuju Sentrum tidak semulus aspal jalan raya Gajah Mada. Di daerah setelah GOR, tepatnya sebrang jalan pom bensin Gajah Mada motor yang saya kendarai berhenti tiba-tiba. Saya sudah punya firasat sebelumnya kalau itu adalah tanda bensinnya telah habis. Heran juga, sejak saya kuliah kehabisan bensin merupakan satu hal yang sering terjadi di kehidupan saya. Apa itu karena malas ke pom bensin atau sering tidak punya uang saya juga belum bisa menyadarinya, hhe. Pengalaman kehabisan bensin yang pernah saya alami ada berbagai macam.
Kembali pada kisah kehabisan bensin edisi 8 desember. Saya bertemu bapak tukang becak yang tengah mangkal di sekitaran TKP ( tempat kejadian perkara). Beliau menawari bantuan kepada saya untuk membelikan bensin di pom sebrang jalan menggunakan botol aqua 1,5 liter miliknya. Saya yang sudah terbiasa mendorong motor kehabisan bensin merasa tidak butuh bantuan dari bapak tukang becak tadi. saya berpikir, pasti nanti bapak tukang becak itu minta uang lebih pada saya. Atau beliau menghargai bensin yang dibelinya dua kali lipat drai harga asli. Dengan halus saya tolak saja tawaran beliau, karena uang di saku saya pas pasan, takut tidak cukup untuk membeli kain. Tapi bapak tukang becak tetap kekeuh membantu saya dan beranjak pergi membeli bensin di pom seberang jalan.
Sekitar
sepuluh menit kemudian bapak tukang becak membawa botol dengan bensin yang
penuh. Kemudian segera menuangkannya
pada tangki motor milik saya. sebelum bapak tukang becak dating saya berpikir
akan memberinya uang sepuluh ribu, entah berapa liter bensin yang ia bawa. Dan saya
merealisasikan pikiran itu. Namun, bapak tukang becak menolaknya. Ia benar-benar
kekeuh tidak mau diberi uang sepeser pun dari saya. saya yang tidak enak hati
karena sudah dibelikan bensin tetap memaksanya menerimanya. Dan akhirnya ia
menerima hanya lima ribu saja, selebihnya ia kembalikan. Sejak itu saya
benar-benar seperti tertampar. Bagaimana bisa berpikir negatif pada orang yang
telah berusaha membantu dalam keadaan susah. Bagaimana bisa berpikir bahwa ia
akan memanfaatkan saya hanya karena beliau seorang tukang becak. Don’t
judge a book by it’s cover nampaknya bukan sekedar quotes biasa. Benar,
kita tidak boleh serta merta menilai seseorang dari penampilan luarnya. Bolehlah
kita berwaspada namun jangan sampai salah sangka. Untuk bapak tukang becak yang
telah menolong saya tadi siang mohon maaf yang sebesar-besarnya karena menyalah
artikan niatan baikmu. Dan terimakasih telah bersedia menolong saya membeli
bensin di saat matahari begitu terik menyengat kulit. Semoga Tuhan selalu
menolongmu di saat kau butuh pertolongan. Amin
Temanku malah sering kelewatan dalam berujar, bila yang membantu cewek akan dipinang menjadi pacar, bila yang membantu cowok akan diangkat menjadi saudara. Saya bantah. kalaupun ada yang membantu, namun .... mana ada yang mau menjadi saudaranya apalagi menjadi pacar.
BalasHapusKalau kamu sendiri gimana dek, apakah dalam hati juga sempat berujar demikian ? hehe.
Eh, jangan lupa terimakasi juga kepada Direktur PT. Pertamina, semua staf BUMN, serta pemerintah beserta semua jajaran dewan wakil rakyat yang telah memfasilitasi program BBM bersubsidi. Hahahahaa.... ckck
ahahah, kalau aku cuma berdoa aja kok mas, tapi berdoanya cuma setelah ditolong. hhehehe :D
Hapuskalau orang indonesia bebas beli bensin kapanpun dan berapapun dimanapun tanpa bayar, baru tak cantumin terimakasihnya mas :D hha,