Susan, Susan, Susan, Besok gede mau jadi apa? Aku kepingin pinter, Biar jadi dokter
Kalau kalau benar, Jadi dokter kamu mau apa? Mau suntik orang lewat, Jus jus jus
Ria : Lho kalau nggak sakit kenapa disuntik? Susan : Biar obatnya laku .
Susan susan susan, Cita-citamu apa lagi ? Aku kepingin jujur, Biar jadi insinyur
Kalau kalau benar, Jadi insinyur mau apa?
Mau bangun gedung bertingkat, Jadi kon melorot oh, Konme kon melarat Konglomerat
Cita-citaku (cita-citaku), Kepingin jadi dokterCita-citaku (cita-citaku), Ingin jadi insinyurCita-citaku (cita-citaku), Menjadi anak pinterCita-citaku (cita-citaku), Ingin jadi presiden
Tujuh belas tahun silam, lagu yang kerap
dinyanyikan oleh kak Ria dan susan tersebut ada dalam satu list lagu favorit
saya. Pun ketika banyak orang di sekitar (ayah, ibuk, atau bu guru di sekolah)
bertanya dengan bangganya “Cita-citamu jadi apa?” selalu lantang menjawab, “aku
ingin jadi dokter” .
Kami semua tidak pernah ragu menjawab dan berteriak lantang. Ada yang ingin jadi insinyur, pilot, presiden, guru dan masih banyak lagi. Namun, setelah tumbuh sekian belas tahun menuju dewasa sepertinya pertanyaan tentang cita-cita tersebut menjadi momok tersendiri ketika di dengar, saya bahkan tidak pernah menemukan lagi jawaban yang dahulunya selalu saya jawab dengan dokter. Meskipun ketika SMA dokter yang saya maksut berpindah haluan menjadi seorang psikologi, tapi sekarang? Dokter ataupun psikologi adalah satu jawaban yang tidak akan pernah jadi jawaban lagi. Terlebih, ketika saya harus berjuang mati matian untuk lolos ujian SNMPTN dan lain sebagainya di jurusan yang diidam-idamkan tapi pada akhirnya terdampar di jurusan matematika MIPA yang entah saya pun tak pernah tau akan jadi apa nantinya ketika lulus kuliah. Kembali harus dihadapkan pada pertanyaan yang selalu ingin dihindari yaitu ‘lulusan matematika itu nanti jadi apa?’ . dan selalu saya akan menjawab ‘matematika itu luas dan bisa masuk dalam berbagai bidang, mau jadi dosen, guru, kerja di kantor, kerja di bank semua bisa’. Jelas jawaban demikian adahal jawaban yang paling aman, karena si penanya hanya akan manggut-manggut seoalah-olah mengerti maksut saya. Padahal jika harus bertanya jujur pada diri ini, tidak pernah saya temukan jawaban konkrit untuk masa setelah lulus kuliah. Saya selalu ingin menjadi seorang pengusaha, tapi apa yang pernah dilakukan? Beberapa kali berwirausaha selalu bangkrut dan enggan mencoba lagi. Dan kadang juga berpikir menjadi seorang guru adalah satu pilihan yang cukup menarik untuk dijadikan masa depan, tapi apa yang terjadi lagi? Saya bahkan merasa capek menghadapi murid sebandel Kevin padahal jumlahnya hanya satu. Ingin jadi penulis? Sepertinya hal satu ini juga satu jawaban yang perlu dipertimbangkan keabsahannya. Bahkan hanya untuk menulis blog yang santai dan ringan kerap kali malas. bagaimana jika jadi ilmuwan matematika? Lihatlah, saya bahkan sulit untuk memahami apa itu bootstrap dan jackknife. Pada akhirnya Cuma akan menjawab ‘cita-citaku menjadi istri dan ibu yang baik’ , betapa kolotnya jawaban itu.
seorang teman pernah bertanya ‘hal apa yang selau membuatmu ingin melakukannya?’ lagi-lagi saya tak mampu menjawab pertanyaan sesederhana itu. Jelas, saya belum mampu memahami diri saya sendiri. Belum mampu mendengarkan bisikan hati tentang apa yang sebenarnya saya cari dalam hidup ini, apa yang saya perlukan untuk hidup ini. Memahami diri sendiri lebih susah dibanding memahami orang lain. Lihatlah, kamu sendiri tak mampu melihat wajahmu tanpa bantuan cermin. Pantas saja saya tidak mampu menemukan jawaban soal cita-cita, tentang diri sendiri saja saya masih memahaminya setengah-setengah.
Teringat satu bab di buku La Tahzan yang mungkin cukup mampu membuat saya bersembunyi dari pertanyaan cita-cita dan apapun tentang masa depan.
Kami semua tidak pernah ragu menjawab dan berteriak lantang. Ada yang ingin jadi insinyur, pilot, presiden, guru dan masih banyak lagi. Namun, setelah tumbuh sekian belas tahun menuju dewasa sepertinya pertanyaan tentang cita-cita tersebut menjadi momok tersendiri ketika di dengar, saya bahkan tidak pernah menemukan lagi jawaban yang dahulunya selalu saya jawab dengan dokter. Meskipun ketika SMA dokter yang saya maksut berpindah haluan menjadi seorang psikologi, tapi sekarang? Dokter ataupun psikologi adalah satu jawaban yang tidak akan pernah jadi jawaban lagi. Terlebih, ketika saya harus berjuang mati matian untuk lolos ujian SNMPTN dan lain sebagainya di jurusan yang diidam-idamkan tapi pada akhirnya terdampar di jurusan matematika MIPA yang entah saya pun tak pernah tau akan jadi apa nantinya ketika lulus kuliah. Kembali harus dihadapkan pada pertanyaan yang selalu ingin dihindari yaitu ‘lulusan matematika itu nanti jadi apa?’ . dan selalu saya akan menjawab ‘matematika itu luas dan bisa masuk dalam berbagai bidang, mau jadi dosen, guru, kerja di kantor, kerja di bank semua bisa’. Jelas jawaban demikian adahal jawaban yang paling aman, karena si penanya hanya akan manggut-manggut seoalah-olah mengerti maksut saya. Padahal jika harus bertanya jujur pada diri ini, tidak pernah saya temukan jawaban konkrit untuk masa setelah lulus kuliah. Saya selalu ingin menjadi seorang pengusaha, tapi apa yang pernah dilakukan? Beberapa kali berwirausaha selalu bangkrut dan enggan mencoba lagi. Dan kadang juga berpikir menjadi seorang guru adalah satu pilihan yang cukup menarik untuk dijadikan masa depan, tapi apa yang terjadi lagi? Saya bahkan merasa capek menghadapi murid sebandel Kevin padahal jumlahnya hanya satu. Ingin jadi penulis? Sepertinya hal satu ini juga satu jawaban yang perlu dipertimbangkan keabsahannya. Bahkan hanya untuk menulis blog yang santai dan ringan kerap kali malas. bagaimana jika jadi ilmuwan matematika? Lihatlah, saya bahkan sulit untuk memahami apa itu bootstrap dan jackknife. Pada akhirnya Cuma akan menjawab ‘cita-citaku menjadi istri dan ibu yang baik’ , betapa kolotnya jawaban itu.
seorang teman pernah bertanya ‘hal apa yang selau membuatmu ingin melakukannya?’ lagi-lagi saya tak mampu menjawab pertanyaan sesederhana itu. Jelas, saya belum mampu memahami diri saya sendiri. Belum mampu mendengarkan bisikan hati tentang apa yang sebenarnya saya cari dalam hidup ini, apa yang saya perlukan untuk hidup ini. Memahami diri sendiri lebih susah dibanding memahami orang lain. Lihatlah, kamu sendiri tak mampu melihat wajahmu tanpa bantuan cermin. Pantas saja saya tidak mampu menemukan jawaban soal cita-cita, tentang diri sendiri saja saya masih memahaminya setengah-setengah.
Teringat satu bab di buku La Tahzan yang mungkin cukup mampu membuat saya bersembunyi dari pertanyaan cita-cita dan apapun tentang masa depan.
“Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba.
Hari inilah yang akan Anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan
segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu
datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari Anda, dan siangnya menyapa
Anda inilah hari Anda. Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah
masa hidup Anda hanya hari ini, atau seakan-akan Anda dilahirkan hari ini dan
akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup Anda tak akan tercabik-cabik
diantara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa
depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar