Pidato -Erica Goldson-



Beberapa menit yang lalu saya membaca satu judul catatan milik seorang teman tentang pidato wisudawan terbaik di salah satu sekolah Amerika Erica Goldson . berikut cuplikan pidato seorang wisudawan terbaik tersebut :
“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang diharapkan kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.
Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Entah saya benar-benar menyetujui pernyataan seorang Erica tersebut atau saya hanya bersembunyi di baliknya karena sejatinya saya sering menyibukkan diri di luar kegiatan akademis dan nilai akademis tidak seberapa tinggi. Namun, pernyataan Erica mungkin bisa kita jadikan cambuk untuk tidak terpenjara dalam jeruji pendidikan yang selalu berpedoman pada nilai tinggi untuk lulus, hingga akhirnya hanya akan melahirkan kecurangan - kecurangan yang dianggap lumrah. 

5 komentar:

  1. setujuuuuh...... !!!!
    guru yang paling baik adalah pengalaman. bukan bapak/ibu dosen :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. besok bolos aja yukk kuliahnya,, kita jalan2 aja nyari pengalaman. :D wkakwkakw

      Hapus
    2. hahahaha..... hayuuuuk...
      lagian percuma kita masuk, paling juga gak ngerti apa yang diomongin,,,
      wkwkwkwkwk

      Hapus