Tulisan ini mungkin sudah terlambat untuk di posting ke sampah
yang mulai terlupakan sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi apa salahnya tetap merangkai
kisah yang menurutku adalah satu warna baru dalam hidup. Bermula dari
perbincangan dengan seorang teman yang kesemuanya sudah pernah merasakan
indahnya begitu dekat dengan langit. Aku ajak saja mereka untuk mengantarkanku
jalan-jalan menikmati keindahan alam dari puncak gunung. Terdengar main-main sih kala itu, tapi teman-temanku yang
baik tetap meng-iya-kan ajakan main-mainku . sambil berkata “paling yo ngomong tok” . tapi
saya tetap ngotot menetapkan kalau tanggal 23agustus kami harus naik ke Ijen,
meski sedikit ragu. Sms terkirim ke banyak nama yang tertera di kontak telepon.
Bertubi-tubi menyerukan ajakan untuk ikut mengantarkanku melihat kawah yang
cukup fenomenal di Indonesia. Satu dua orang mulai sepakat untuk ikut
mengeksplorasi alam ciptaan Tuhan-ku yang mengagumkan. Rencananya kami akan bermalam di paltuding
(tempat pemberhentian terakhir kendaran) dan mulai naik ke puncak pada pukul )
02.00 dini hari. Oleh karenanya temanku Bima menyiapkan segala hal yang diperlukan
untuk bermalam disana. Meski pada akhirnya semua persiapan meleset dari apa
yang direncanakan. Haha. Tetap jempol untuk Bima yang baik. J enam orang tercatat di dalam list
pendamping jalan-jalan kali ini. Cepi, Alfian, Maya, Bima, Feri dan Fadchur
yang masih diselimuti keraguan.
Hari itu datang, tanggal 22 agustus tepat pukul 10.00 WIB aku
sampai di Banyuwangi dengan selamat. Dengan senyum merekah dan hati yang begitu syahdu.
![]() |
| di terminal tawang alun -Genteng-Banyuwangi. nungguin maya datang menjemput . :) |
Setelah singgah sejenak di rumah maya, kami berempat (aku,
maya, alfi, dan fian) pergi ke banyuwangi kota untuk mampir dahulu ke kantor
tempat magang bulan lalu. Bersilaturahim dan saling berbagi senyum dengan
pegawai kantor yang sudah kami anggap sebagai keluarga. Untungnya kami sampai
kantor pada jam makan siang, sehingga dapat bersantai dan makan siang bersama
rekan-rekan kantor. Dan tentunya di teraktir Pak Agus ^^.
Setelah beberapa jam menunggu jarum jam sampai pada angka 4 ,
akhirnya kami berkumpul dengan Bima dan
Feri untuk segera memulai perjalanan kami. Tepat pukul 05.00 roda motor melaju dengan kencang. Here
We Go.. Ijeennn.
kami sampai di paltuding pukul 06.30 , langsung disambut oleh langit yang begitu cerah dengan bintang-bintang yang tak pernah terhitung oleh angka. Aku takjub. Baru kali ini melihat langit seindah itu. Tak hentinya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bersua dengan gemerlap bintang-bintang yang luar biasa indah. Aku mencintai langit-Mu Tuhan.
kami sampai di paltuding pukul 06.30 , langsung disambut oleh langit yang begitu cerah dengan bintang-bintang yang tak pernah terhitung oleh angka. Aku takjub. Baru kali ini melihat langit seindah itu. Tak hentinya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bersua dengan gemerlap bintang-bintang yang luar biasa indah. Aku mencintai langit-Mu Tuhan.
Dua teman kami yang lain datang sejam kemudian, jadilah
jumlah kami menjadi delapan. Aku, alfi, fian, maya, feri, bima , fadchur dan
ricahk.
Angin begitu kencang pada malam itu, begitu dingin menusuk
tulang, namun begitu hangat saat kau menengadah ke langit Tuhan. Canda tawa
pecah di tengah kesunyian paltuding malam itu. Rasanya kesyukuran ini tiada
pernah berhenti.
Dan, waktu yang ditunggu telah tiba. Pukul 02.00 kami
mengemasi barang masing-masing. Menyiapkan diri untuk berjalan lebih jauh dari
biasanya. Ditemani sinar bulan yang
begitu terang dan kelap-kelip bintang jalanan begitu tampak terang. Namun,
angin tetap tidak takluk. Mati-matian kami berjalan melawan angin. Maklum saja,
musim kemarau begini angin memang akan sangat kencang. setiap beberapa langkah
harus berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Jika tidak pasti akan megap-megap . teman kami alfi sempat
dibuat sengsara oleh angin. Badannya meriang dan sempat muntah-muntah di tengah
perjalanan. Aku , feri, maya, fadchur dan ricahk yang telah sampai di pos
penimbangan terlebih dahulu harap-harap cemas menanti alfi. Takut jika
tiba-tiba dia tidak sanggup naik lagi dan memilih turun. Namun alfi kuat, dia
datang dengan langkah yang pasti. Dan perjalanan tetap berlanjut J.
angin semakin gila saja, beberapa kali kami harus merapat ke tebing untuk berlindung dari angin. Sebelah kanan kami jurang, kalau tidak hati-hati bisa saja kami jatuh terbawa angin dan jatuh.
angin semakin gila saja, beberapa kali kami harus merapat ke tebing untuk berlindung dari angin. Sebelah kanan kami jurang, kalau tidak hati-hati bisa saja kami jatuh terbawa angin dan jatuh.
Langkah demi langkah telah kami lewati. Kawah telah di
depan mata. Bertambah lagi kesyukuran ini. Akhirnya bisa menyaksikan langsung
kawah Ijen dari dekat, tidak hanya dengar dari cerita teman. Hehe.
kami ingin menyambut jingga pagi itu, kami terus melangkah lebih tinggi lagi hingga sampai pada benteng, ditemani angin dan embun pagi yang begitu menyejukkan. Sungguh bersatu dengan alam begitu menenangkan. Terimakasih Tuhan, Kau beri hamba kesempatan untuk lebih dekat dengan langit. Merasakan hangat sinar matahari dari ketinggian 2500mdpl.
kami ingin menyambut jingga pagi itu, kami terus melangkah lebih tinggi lagi hingga sampai pada benteng, ditemani angin dan embun pagi yang begitu menyejukkan. Sungguh bersatu dengan alam begitu menenangkan. Terimakasih Tuhan, Kau beri hamba kesempatan untuk lebih dekat dengan langit. Merasakan hangat sinar matahari dari ketinggian 2500mdpl.
Dan sekarang, saya ikut mengimani bahwa naik gunung itu
candu. Alam Alloh ini begitu indah, mari kita mencintainya dan menjaga dengan
sebaik-baiknya. Semoga kapan-kapan yang entah kapan, diberi kesempatan oleh
sang pencipta langit untuk kembali lebih dekat dengan langit. menyaksikan
sapaan jingga dari atas awan. J sekian.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar