bukan curhat



Suasana pagi di rumah ini tak pernah berbeda. Selalu diiringi dentingan-dentingan keras karena penghuninya tidak mau segera menyapa mentari yang mulai naik dari poros terbitnya. Sampai bosan sendiri dibuatnya. Belum sampai nyawa ini genap kembali menyatu dengan raga, sudah dibuat kabur lagi karena kaget. Pada akhirnya ikut-ikutan meluapkan emosi karena nyawa serasa antara ada dan tiada. [lebay ah]
Saya bergegas bangun dari ranjang yang selalu menawarkan kenyamanan untuk beristirahat merenggangkan otot-otot yang lelah. Mengambil handphone yang bergelantung di tembok tempat mengisi baterai dan melihat jam digitalnya menunjukkan pukul 07.00. Ini bukan bangun kesiangan, tetapi bangun kedua setelah sholat subuh, maklum lah saya memang kerap kali tergoda untuk bermimpi lagi setelah subuhan. Kemudian , dengan kepala yang sedikit berat karena kurang tidur saya buka pintu kamar dan mendapati Ayah sedang berdiri di samping tempat Mas tidur, tepatnya di depan TV.
Beliau masih ngomel-ngomel panjang lebar karena melihat anaknya tidak kunjung membuka matanya. Mulai dari kisah-kisah para nabi zaman dahulu sampai kisah si Ahmad fatonah beliau lontarkan menasehati Mas yang nyawanya masih melayang-layang di dunia mimpi. Seperti tontonan wajib yang harus saya nikmati setiap pagi .
Saya abaikan itu, dan segera pergi ke tempat cucian untuk memulai aktifitas kucek-kucek baju kotor yang sudah menumpuk. Aktifitas ini memang rutin saya lakukan setiap pagi, karena kalau tidak Ibu tidak akan memberi saya uang jajan. Hehe. Satu jam berlalu, suara omelen ayah masih jelas terdengar oleh telinga, entah masih karena Mas yang tidak kunjung menurutinya ataupun hal lain yang membuat Beliau kesal. Saya yang awalnya biasa saja malah ikutan kesal dibuatnya. setelah pakaian basah yang telah dicuci saya jemur, saya mendekat kepada ayah dan bertanya “Wonten Nopo  toh Yah?”  . dan beliau menjawab dengan nada kesal bahwa sedang mencari-cari adik dan Mas untuk disuruh mengambil Accu tapi tidak ada yang lekas berangkat . sambil mengedarkan pandangan ke tempat dimana Mas tadi tidur, ternyata sudah kosong. Kemudian saya putuskan untuk melihat kamar atas yang notabene merupakan kamar paling aman dan paling nyaman untuk dibuat mbangkong . dugaan itu benar, Adik dan Mas sedang asyik mendengkur sedangkan Ayah teriak-teriak tidak jelas sedari tadi. Wah,, saya yang pusing kalau sudah begini. Dibangunkan dengan air pun mereka berdua tidak mau lekas bangun. Sampai-sampai adik ikut-ikutan teriak membentak saya. Ayah yang masih berdiri di dekat tangga jadi semakin panas mendengar teriakan si Adik dan memarah-marahi dia karena semakin kesal dibuatnya. seandainya ada Ibu, pasti beliau bisa mendinginkan keadaan.
Ayah duduk di anak tangga, pandangannya kecewa namun kesal. Dengan nada yang sedikit lirih beliau berkata “mari ayah pensiun ayo pindah nang Nggayam ae, enak nang kunu urip gak sumpek. “ . Pernyataan itu sedikit menggelitik hati karena bisa dibilang sangat konyol ketika sudah berpuluh-puluh tahun keluarga kami pindah ke Jember dan karena masalah pagi ini Ayah berencana untuk kembali hidup di kota asal Ayah dan Ibu , yaitu Jombang. Saya terus mengajak ayah berbincang-bincang tentang ini. Saya pikir beliau hanya bicara ala kadarnya karena kesal sehingga apapun bisa saja keluar dari mulut beliau. Tetapi keseriusan itu tampak pada wajah Ayah ketika bicara lebih jauh tentang rencana pindah tadi. Bahkan beliau juga bilang bahwa sudah siap untuk menutup usahanya ketika akan pindah ke Jombang. Pada wajahnya seolah tergambar satu hidup keluarga yang tenang dan makmur ketika membayangkan kepindahan itu. Saya pun ikut larut berimajinasi memikirkan kalau saja rencana itu akan terealisasi. Kota yang kurang lebih sudah 20 tahun memberikan banyak kenangan ini akan kami tinggalkan untuk satu hidup yang Ayah anggap akan lebih tenang dan menyenangkan.
Bukan itu Ayah, yang akan membuat Mas, Adik atau pun Saya berubah menjadi anak yang berbakti dan nurut kepada Ayah. Hidup di desa yang jauh dari keramaian dan kehidupan kota yang bising bukan solusi yang terbaik untuk menjadikan kami sebagai anak yang Ayah inginkan. Kami hanya perlu didengarkan dan dimengerti. Tidak melulu menjadi robot yang harus selalu melakukan apa-apa yang Ayah inginkan. Kami harus begini, harus begitu, harus ini harus itu.  Kami bosan dibuat menjadi seseorang yang bukan kami. Ayah selalu memaksakan kami untuk menjadi yang ayah mau tetapi tidak pernah mendengar sedikit pun curhatan ataupun pendapat kami. Seolah-olah apa yang kami pikirkan selalu salah. Saya tidak menyalahkan ayah tentang itu, seorang ayah pastilah ingin menjadikan anaknya menjadi orang yang baik. Tetapi memaksa itu adalah cara yang menurut saya kurang pas untuk kami. Kami juga ingin bersuara memberikan pendapat kami. Saya akan tetap menghormatimu ayah, tetap akan menyayangimu seperti ayah sayang kepada anak-anaknya.

5 komentar:

  1. wuik?
    sampe segitunya y?
    hehehehe...
    sabar y Jauh..
    :D

    BalasHapus
  2. jangan pindah cind.... ntar kalo kmu pindah,, aku ma cepi bingung mw cari makan gratis di rumahnya sapa kalo akhir bulan..
    heheh

    BalasHapus
  3. -Bukan curhat, tapi nyata :D
    -Paradigma orang lama (para orang tua jadul) memang tidak ingin jauh dari kerabat keluarga. Karena kamu (kayanya) tidak hidup bersinggungan dengan kerabat keluarga mu selama ini.
    -Cari orang yang buat ayah "tunduk",curhat ma dia.biar dia yang ngomong sama ayah.
    -Semangka :D

    BalasHapus
  4. mas FHSK : plis deh kakak, jangan panggil aku jauh,, -.- kan aku masih di jember, belum pergi jauh,, hhehe

    pus may : hhaha, kan nunggu ayah pensiun pindahnya cind, taun depan ayah pensiun, dan kita sudah lulus dong,, AMINNN

    mas budi : hhehe, mas budi gamau bikin kenang-kenangan terakhir sama aku ya? sebelum aku pindah,, hhehe,

    BalasHapus
  5. wawww....jadi beneran pindah????
    hmmmmmmm..... #gak bisa berkata-kata lagi dah

    BalasHapus