Kakak pulang terlalu pagi



Semalam suntuk aku membiarkan air mataku terurai. Menyakiti bagian tubuhku dengan benturan-benturan bodoh yang kulakukan sendiri karena kesal. Marah pada perempuan itu, yang entah kenapa sangat sulit kuterima sebagai kakak, meski sejatinya hanya ia satu-satunya keluarga yang sekarang berada di sisiku. Bagaimana tidak, untuk menghadiahkanku  sebuah tas yang teramat sangat kuinginkan saja ia tak mau, padahal harganya tak sebanding dengan berlian, emas atau apalah itu yang bagi kebanyakan orang sangatlah mahal. Bukan tentang gaya atau tentang fashion, tapi ini tentang keadaan tasku. Jahitan kain yang sudah bertahun-tahun menemaniku sekolah ini sudah benar-benar tak layak untuk menopang buku-buku pelajaran sekolahku. Tas itu sudah teramat tua untuk bekerja, pensiun lebih tepatnya.tapi Ani tak pernah peduli itu, yang ia tau hanyalah bagaimana ia bisa menjual kue-kue anehnya setiap hari. Aku tau, pengahsilan seorang penjual kue kecil tak akan sama dengan pengahsilan para wakil rakyat, tak heran jika tas seharga Rp 40.000 dirasa teramat mahal. Tapi, bukankah ia termasuk salah seorang siswa penerima beasiswa? Mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membeli tas yang layak untukku mungkin bukanlah  beban berat layaknya beban yang dipikul para penguasa negeri ini. Agh, aku benci keadaan ini. Andai saja orang tuaku masih hidup, dan andai saja kakakku itu bisa lebih berguna. tidak, aku tidak menyebutnya sebagai kakak. Jahat memang, tapi itulah kenyataan.
Dari sudut pandang dia mungkin aku terlalu jahat dan egois, terlalu berlebihan, kekanak-kanakan dan benar-benar keterlaluan.
Hah, aku tak akan pernah peduli. Sudah terlalu lama aku menyiksa batinku sendiri untuk menahan keinginan memiliki segala hal yang kuinginkan. Dan sekarang, hal ini bukan kuinginkan lagi tapi teramat kubutuhkan. Haruskah kumenahannya lagi untuk memiliki?  terlalu menyebalkan.
Pagi ini, Kupandangi senyum menjijikkan yang terus ia hadirkn saat matanya beradu pandang denganku. Jelas ada tatapan harapan yang mengisyaratkanku untuk mengerti dia. Tapi tidak akan pernah kulakukan. Keputusan akan tetap menjadi keputusan. Dan keputusanku adalah mendiaminya hingga ia sadar bahwa aku pun perlu mendapatkan apa yang aku butuhkan.
“gak makan dulu dek?” ujarnya penuh keraguan
“untuk apa? untuk membiarkan perutku sakit gara-gara makan nasi basi? “ ketusku padanya. Melihat perubahan mimiknya saat itu benar-benar membuatku tidak tega. Rasanya memang sudah keterlaluan, tapi bagaimana lagi, jika tak begitu kapan ia bisa menyadari kesalahannya. Aku tetap berlalu meninggalkan tempat ia makan dengan penuh kebencian yang amat dalam. Tak sedikitpun aku sudi untuk melirik wajahnya meski hanya untuk sedetik. Tidak ada kata pamit saat aku hendak menginjakkan kaki untuk keluar rumah. Tapi, aku terhenti saat mulai melangkah 4 kaki dari tempatku mengenakan sepatu.
“kakak pulang sore dek, atau mungkin larut malam, kalo’ kamu butuh makan uangnya kakak taruh di bawah kasur kakak, gunakan sehemat mungkin ya dek.....”
Ingin sekali rasnya bertanya padanya kemana ia akan pergi, tapi ego ini terlalu besar. Bagaimana mungkin aku mengajaknya bicara sementara aku sedang memposisikan diri sebagai orang yang sedang marah padanya. Perasaan tidak enak mulai menjalar tak menentu dalam diri. Perasaan bersalah terus menerus menemani langkah kecilku untuk pergi ke sekolah. Ada apa ini? Ada apa? aku merasa seperti akan ada hal buruk yang mungkin sedang menghantuinya kini. Tapi apa? aku benar-benar tak habis pikir untuk terus meramal jawaban bimbangku. Dan setan kecil pun mulai mengahasutku untuk melupakan apapun yang kukawatirkan saat ini. Sepertinya ada benarnya, tak ada gunanya aku membuang energi untuk memikirkan hal yang benar-benra tak bernilai diamataku.
-----ooo-----
Matahari kali ini, terlalu menyengat. Memberi beban lebih pada langkahku yang sejak tadi mungkin sudah seperti orang gila. Ingin rasanya segera merebahkan tubuh ke atas kasur, meneguk air jernih yang entah mengapa selalu kuragukan kehadirannya di rumah. Miris sekali hidupku. “hei, ngelamun ajja nie....?”  suara serak itu membuyarkan pikiran-pikiran menyedihkan tentang hidupku. Kulirik benda yang berada di genggamannya. Tas Cantik. Ah, kenapa ia harus selalu menawarkan hal-hal seperti ini disaat keadaanku benar-benar genting. Benar-benar membuatku semakin muak.
“maaf na, aku harus cepet pulang”
“jangn buru-buru dong ra,  ini di liat-liat dulu coba, tasnya bagus-bagus lo.... harganya beragam, bisa kredit, mau?? ” cerocosnya membutku ingin sekali menguburnya hidup-hidup. Dasar pedagang, yang ada dalam pikirannya Cuma satu hal. Keuntungan. Tanpa sedikitpun pernah memikirkan masalah apa yang sedang dihadapi pelanggannya kini.
“udah ah, aku kurang berminat sama barang-barangmu sekarang,,, maaf”
Daripada mengahbiskan tenagaku untuk marah-marah dalam hati karna kesal tak bisa membeli tas itu lebih baik aku kembali melawan terik matahari yang semakin siang menjadi semakin menyengat ini. Terus, dan terus berjalan menyusuri kehidupan kota yang tak pernah padu antara satu dengan yan lain. Beginilah kehidupan. Aku , dia dan mereka tidak akan sama. Lagi-lagi terngiang semua tentang hidupku. Hidup miskin yang benar-benar tak bisa diandalkan sedikitpun. selalu menyusahkan. Menenggelamkan senyum yang kata kebanyakan orang sangatlah manis. Aku Benar-benar sudah tak mampu untuk memikirkannya.
“mbak.rara, lama sekali pulangnya, saya sudah nunggu daritadi ini.....” lagi-lagi ada orang yang mengagetkan lamunanku. Dan lagi-lagi perusak lamunan itu adalah orang yang sedang membawa sebuah tas cantik. apakah hidup ini hanya tentang sebuah tas? Menyebalkan.
“kenapa mbk.min? mau nawarin tas? Maaf saya lagi gak mau beli tas.” Aku berlalu tanpa melirik jahitan kain berbentuk segiempat di tangannya. Sungguh miris aku merasakan hidup.
“bukan mbak, mau ngasihin tas, tadi mbk.ani beli. Katanya mbk.rara pengen tas? Mbak.ani tadi ke kecamatan mau ngantri blt, katanya mau gantiin uang yang buat beli tas ini.”  sahutnya sembari memberikan tas yang sedari tadi berada di genggamannya.
TAS & BLT. Hanya dua kata itu yang saat ini terus berkejaran dalam otak bodohku. Bagaimana mungkin dia menyakiti tubuhnya sendiri hanya untuk beberapa lembar uang yang tak terbilang besar jumlahnya. “Apa dia melakukan hal itu untuk membeli tas ini” teka-teki yang harus aku ketahui apa jawabnya. Terus dan terus dibayangi sejuta pertanyaan yang tak mampu terjawab oleh akal sehatku. Hingga tak kusadari bahwa aku telah meninggalkan mbak.min begitu saja. Dan tiba – tiba sudah berada di ruang kecil yang hanya berisikan sebuah gumapaln-gumpalan kapuk yang terpadu menjadi satu. Aku teringat satu hal “kakak pulang sore dek, atau mungkin larut malam, kalo’ kamu butuh makan uangnya kakak taruh di bawah kasur kakak, gunakan sehemat mungkin ya dek.....”
Tanpa pikir panjang kakiku segera beranjak untuk mendekati kasur yang terlihat sangatlah rapi dengan paduan warna hijau di atasnya. Aku merasa seperti akan ada monster yang siap menerkamku ketika itu. Takut akan suatu hal yang tak jelas. Dengan hati-hati aku mulai mencari uang di bawah kasur Ani. Dia benar. Ada sejumlah uang disana. Dan itu bukan sedikit. Saat aku mulai menghitung jumlahnya, terdapat selembar kertas yang tiba-tiba saja terjatuh dari genggamanku. Aku mengambilnya, dan tiba-tiba saja menangis saat melihat tulisan “maafkan kakak adikku”. Tanpa banyak berpikir lagi , kakiku pun langsung beranjak keluar rumah untuk menyusulnya di kecamatan. Keadaan sangatlah kacau, pembagian uang Rp 40000 itu berlangsung sangatlah tak teratur. Aku melihat banyak orang terhimpit satu sama lain. Berteriak , menangis dan bahkan marah-marah. Keadaan itu begitu menegangkan, membuat bulu kudukku berdiri dan terus dihantui kekawatiran tak menentu “dimana kakakku? Dimana ani? Diamana dia? “ hanya itu yang terus menjamah pikiranku kala ini. Mencari dan terus menembus kerumunan manusia-manusia yang senasib denganku.meraung seperti macan yang tengah mencari mangsa.
 Semuanya sia-sia dan benar-benar tak berguna.  aku menangis histeris saat mendapatinya tergeletak terinjak orang-orang miskin pengantri BLT ini. Beberapa orang laki-laki mengangkatnya keluar dari kerumunan dan mendekatkannya pada posko panitia.Ttapi apalah daya, jantungnya tak lagi bekerja sebagaimana biasa, nafasnya pun tak lagi beraktifitas sebagaimana biasa. Dia sudah pulang. Begitulah orang-orang berdasi itu menyimpulkan.
Dan aku akan hidup sebatangkara, dalam takdir yang terus-menerus seakan memerintahkanku untuk mendekat pada-Nya. Maafkan aku Tuhan , atas keangkuhanku pada nikmat-Mu.

2 komentar:

  1. kirain ini tentang seorang pramuria.bagus tapi ku belum nangkep maksudnya,,hehehehhehee

    BalasHapus
  2. Menyukai. Jangan lupa, ditunggu komentarnya di Blog-ku "alfaqier93.blogspot.com". Terima Kasih..

    BalasHapus